Cegah Kekeringan Meluas, Dispangtan Purwakarta Inventarisasi Sumber Air Tersisa

Cegah Kekeringan Meluas, Dispangtan Purwakarta Inventarisasi Sumber Air Tersisa



INILAH, Purwakarta – Dinas Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kabupaten Purwakarta, saat ini sedang menginventariasasi sumber mata air guna menyelamatkan areal pertanian yang terancam kekeringan. Terutama, di lahan yang masuk wilayah tadah hujan.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta, Agus Rachlan Suherlan menuturkan, dampak musim kemarau ini memang sudah dirasakan sejumlah petani di wilayahnya. Bahkan, kata dia, hingga pekan ketiga bulan Juli ini sudah ada 65 hektare areal persawahan mengalami gagal panen akibat puso. 

“Ancaman Puso sudah semakin meluas. Makanya, perlu diantisipasi sesegera mungkin,” ujar Agus kepada INILAH, di kantornya, Rabu (24/7/2019).

Agus menjelaskan, selain yang sudah puso di wilayahnya juga terdapat sekitar 1.233 hektare lahan yang rawan gagal panen akibat kekeringan. Lahan tersebut, berada di wilayah tadah hujan yang memang selama ini bergantung pada air hujan. Sehingga, menurut dia, perlu penanganan cepat untuk menyelamatkan padi-padi ini dari ancaman kekeringan ini.

Salah satu upayanya, yakni dengan mengidentifikasi keberadaan sumber air terdekat. Sehingga, sumber air tersebut bisa digunakan untuk mengairi sawah yang kekeringan ini. Caranya, dengan mengambil menggunakan pompa dan selang yang sudah disiapkan.

Saat ini, kata dia, pihaknya telah mendapat batuan terbaru dari Kementerian Pertanian untuk petani Purwakarta. Bantuannya, berupa selang air sepanjang 7.300 meter. Dengan adanya selang air ini, diharapkan pemanfaatan pompa menjadi maksimal lagi.

“Bantuan selang air dari Kementerian Pertanian ini, sebagai upaya tanggap darurat kekeringan,” kata dia.

Terkait usulan pembuatan embung oleh Kementerian Pertanian, sambung Agus, rencana ini memang sejalan dengan program pemerintah setempat. Namun, dalam hal ini pemerinta daerah lebih sepakat untuk membeli sumber-sumber air yang sudah ada. Misalnya, sumber air dari eks galian C.

“Selama ini, kita memang sudah memanfaatkan bekas galian C untuk antisipasi kekeringan ini. Kendati, statusnya bukan milik pemerintah. Kedepan, kita usulkan supaya sumber-sumber air seperti ini dibeli untuk meminimalisasi dampak kekeringan di wilayah tadah hujan,” jelas dia. (Asep Mulyana)