Dampak Kemarau, 10 Hektare Sawah di Purwakarta Terdeteksi Alami Puso

Dampak Kemarau, 10 Hektare Sawah di Purwakarta Terdeteksi Alami Puso



INILAH, Purwakarta - Dampak musim kemarau saat ini mulai dirasakan sejumlah petani di Kabupaten Purwakarta. Dinas Pangan dan Pertanian setempat melansir, kini sedikitnya ada sekitar 10 hektare areal persawahan di wilayah ini mengalami puso. 

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta Agus Rachlan Suherlan menuturkan, lahan yang mengalami gagal panen itu salah satunya berada di Kecamatan Maniis. Tak hanya lahan yang puso, lahan seluas 1.595 hektare lainnya pun terancam kekeringan.

"Lahan yang puso tersebut usia padinya sekitar 75 hari. Karena terdampak kekeringan, jadi tak bisa diselamatkan alias gagal panen," ujar Agus, Jumat (5/7/2019).

Adapun sawah yang padinya mengalami puso itu, kata dia, berada di areal lahan tadah hujan. Tanaman di sawah ini tak bisa diselamatkan, karena musim kemarau saat ini datang lebih cepat.

Jadi, petani di areal tadah hujan, sudah kadung bercocok tanam. Di perjalanan tanam, musim kemarau datang lebih awal. Sehingga, belum sempat dipanen, padi tersebut sudah keburu puso akibat kekeringan.

Selain yang 10 hektare puso ini, lanjut Agus, dari luas baku lahan sekitar 18 ribu hektare ini, yang terancam kekeringan mencapai 1.595 hektare. Dengan rincian, 7.15 hektare dalam kondisi ringan. 418 hektare dalam kondisi sedang. Serta, 120 hektare dengan kondisi berat.

Lahan yang terancam kekeringan ini tersebar di sejumlah wilayah. Seperti Maniis, Tegalwaru, Campaka, dan Cibatu. Lahan yang terancam kekeringan itu tergolong area sawah tadah hujan.

Sebagai langkah antisipasi timbulnya dampak yang lebih buruk, Agus menyebutkan pihaknya akan melakukan pompanisasi. Saat ini, ada 350 pompa air bantuan pemerintah yang disediakan. Pompa ini akan diberlakukan mobile seiring permintaan para kelompok tani.

Selain pompa, pemerintah juga sudah menyediakan 1.500 meter selang air. Selang ini, nantinya akan dibagikan ke kelompok tani yang mengusulkan bantuan tersebut.

"Tak hanya itu, kami dengan petani bersama-sama membuat sumur pantek," ujar Agus.

Menurut Agus, pompanisasi ini bisa maksimal jika di lokasi tersebut masih ada sumber mata air. Semisal di Kecamatan Cibatu yang ada sumber mata air bekas galian pasir. Kelompok tani yang dekat dengan sumber mata air itu bisa mengusulkan untuk meminjam pompa air.

Sedangkan, di lokasi yang sama sekali tidak ada sumber mata airnya, penangannya diakui agak sulit. 

"Sebab, mau menggunakan pompa ataupun sumur pantek, jika airnya tidak ada mau bagaimana?" ucapnya. (Asep Mulyana)