Sikap Kami: Ironi Politisi Negeri

Sikap Kami: Ironi Politisi Negeri



SALAH satu profesi yang mulut pelakunya tak bisa dipegang adalah politisi. Ironisnya, negeri ini justru dipimpin oleh sebagian besar mereka-mereka itu. Bukankah jadi kacau semuanya?

Ada jargon yang oleh politisi sendiri kerap disebut dengan cara yang bangga: tak ada kawan abadi di politik, yang ada kepentingan abadi. Kepentingan abadi politisi apalagi kalau bukan kekuasaan.

Itu sebabnya, kita melihat perpindahan partai politik menjadi hal yang biasa saja bagi politisi. Perpindahan koalisi pun menjadi hal yang tak ganjil. Pasalnya, “Tuhan” sebagian mereka adalah kekuasaan. Bukan faktor-faktor ideologis, idealisme, dan kesamaan cita-cita.

Lalu, apa yang terjadi? Faktanya, pihak yang paling banyak tertangkap oleh KPK dan kini menghuni Lapas Sukamiskin adalah politisi, selain eksekutif pemerintahan. Sebab, aktivitas mereka bukan berdasarkan ideologis, bukan berdasarkan adat dan adab, melain sesuai “jalan Tuhan” mereka: kekuasaan.

Ironis bukan? Orang yang dipercaya rakyat justru orang yang mencederai janjinya terhadap rakyat. Dipercaya rakyat, justru nyolong uang rakyat. Sebab apa? Mereka tak punya modal ideologi yang kuat.

Karena itu, bisa juga kita simpulkan, sebagian koalisi-koalisi yang terbentuk karena ideologi dan idealisme, adalah pernyataan bohong saja. Sampah. Sejatinya bukan itu. Mereka hanya menginginkan kekuasaan.

Tengoklah realitas yang terjadi saat ini. Sejumlah parpol pengusung pasangan calon presiden yang kalah, kesengsem berat berpindah haluan ke koalisi pemenang. Maksudnya apa kalau bukan untuk kuasa? Sejumlah parpol koalisi pemenang secara halus menolak kehadiran mereka. Maksudnya apa kalau bukan karena takut tidak kebagian kursi?

Pada partai-partai koalisi pemenang ini pun kita melihat ironisme yang akut. Saat mengusung pasangan calon, dasar keputusan yang muncul ke publik adalah persoalan idealisme. Tapi, begitu menang, mereka malah rebutan kursi menteri. Ada yang merasa lebih berjasa dalam koalisi dan minta jatah menteri yang di luar nalar politik. Padahal ketika mengusung, lagaknya adalah karena idealisme, bukan soal kursi menteri.

Begitulah politik kita. Tentu tak semua. Tapi rata-rata yang kita lihat adalah politik tipu muslihat, politik mulut manis, politik tanpa dasar yang kuat. Ya, karena “Tuhan” mereka adalah kekuasaan, bukan kemaslahatan. (*)