Sikap Kami: Saatnya Menjaga Hutan Kita

Sikap Kami: Saatnya Menjaga Hutan Kita



BANYAK sekali kegalauan jika musim kemarau sudah datang. Persoalan kita bukan hanya kekeringan, lahan pertanian yang gagal panen, tapi juga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kebakaran hutan ini patut menjadi perhatian kita karena dia umumnya bukan disebabkan oleh kondisi kemarau saja. Penyebabnya yang lebih utama adalah kelalaian manusia.

Jadi, sepanjang manusia tak nakal, tak iseng, tak gegabah, ancaman kebakaran hutan masih bisa dimininamlisir. Hutan di saat kemarau bahkan bisa hangus hanya karena selemparan buangan puntung rokok menyala.

Penyebabnya bisa sangat sepele, tapi mengatasinya adalah pekerjaan yang serius, berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Sekadar mengingatkan, betapa tahun lalu kebakaran yang terjadi di kaki Gunung Ciremai membutuhkan upaya, energi, dan dana tak sedikit untuk memadamkan.

Ratusan hektare yang terbakar saat itu. Agak sulit memadamkannya karena medan yang sulit. Beda dengan kebakaran di Kalimantan yang terjadi di tempat yang landai, tapi tetap sulit karena tipikal lahannya yang kebanyakan gambut.

Karena itu, kita mengingatkan seluruh pihak pemangku kepentingan lingkungan, untuk memperkuat kewaspadaan. Mulai dari petugas dinas lingkungan hidup, polisi hutan, LSM lingkungan, dan terutama kita sendiri, masyarakat, untuk tidak ‘bermain api’ di tengah suasana seperti ini.

Kita, misalnya, mendukung langkah pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang menutup sementara pendakian terhitung 12-21 Agustus 2019 ini. Kita menilai, langkah preventif untuk menjaga kawasan di Gunung Gede Pangrango dari ancaman kebakaran, adalah sebuah keharusan. Kita pun mendukung, jika pengelola taman nasional lainnya, atau pengawasan kawasan pegunungan lain, mengambil langkah serupa.

Jawa Barat memang belum pernah mengalami kebakaran hutan seberat di Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah, atau Kalimantan Barat. Dan kita tak ingin, peristiwa-peristiwa heboh yang sempat mencuat dari kebakaran hutan di wilayah seperti itu, terjadi pula di sini. Selain menyulitkan, juga akan mencoreng muka Jawa Barat sebagai daerah yang tak bisa menjaga lingkungannya. (*)