Ratusan Bayi di Kota Cirebon Diintervensi Musik Klasik

Ratusan Bayi di Kota Cirebon Diintervensi Musik Klasik



INILAH, Cirebon – Kota Cirebon menjadi satu-satunya daerah di Jawa Barat yang telah menerapkan program brain booster. Selama empat tahun terakhir, sedikitnya 436 bayi di kota udang telah diintervensi metode pengungkit otak ini.
 
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cirebon Edy Sugiarto mengungkapkan, program brain booster yang diluncurkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) empat tahun lalu itu telah dilaksanakan di Kota Cirebon selama empat tahun belakangan ini. Setiap janin yang dimulai dari usia 20 minggu diintervensi dengan musik klasik atau murotal quran.
 
"Brain booster ini menstimulasi kemampuan otak janin dalam kandungan," kata Edy kepada wartawan, Rabu (21/11/2018).
 
Dalam pelaksanaannya, setiap ibu dengan usia kehamilan mulai 20 minggu di Kota Cirebon, diberi sebuah headset gratis. Selama mengandung hingga melahirkan, sang ibu diminta rutin memperdengarkan janinnya musik-musik klasik, semacam karya Mozart, Beethoven, dan lainnya, setiap malam antara pukul 20.00-22.00 selama satu jam.
 
Malam hari merupakan waktu terbaik karena proses pendengaran janin paling aktif pada waktu ini. Musik klasik yang diperdengarkan rutin sendiri harus berfrekuensi 5 ribu hingga 8 ribu Hertz.
 
Edy mengatakan, stimulasi musik klasik maupun murotal quran diyakini dapat mengoptimalkan kemampuan otak janin. Selama ini, kemampuan otak sesungguhnya dinilai telah baik.
 
"Tapi, belum optimal, baru sekitar 60% ke bawah. Sementara 40% sisanya belum optimal dan harus diupgrade agar sembilan kecerdasan majemuk teroptimalisasi," jelasnya.
 
Sepanjang empat tahun terakhir, sudah 436 bayi di Kota Cirebon yang proses kelahirannya diintervensi program brain booster. Satu unit headset dipinjamkan kepada para ibu hamil hingga kelahiran sang anak.
 
Edy menyatakan, tak semua ibu hamil bisa mengikuti program ini karena ada beberapa syarat yang diberlakukan. Selain harus korporatif dan bergizi baik, suami yang bersangkutan pun haruslah tipe suami siaga.
 
"Jadi, kalau suaminya seperti Bang Thoyib yang tak pulang-pulang, ya tak bisa ikut program ini. Termasuk kalau gizinya tak seimbang," tuturna.
 
Peserta program ini, sambung dia, harus melaporkan rutin aktivitasnya setiap bulan. Usia kehamilan para ibu yang hendak mengikuti program ini pun harus tepat 20 bulan dan harus rutin memperdengarkannya selama satu jam setiap malam, demi menghindari kekurangoptimalan hasil.
 
Pemberlakukan syarat tersebut sesungguhnya tak lepas pula dari keterbatasan peralatan yang dimiliki Dinkes Kota Cirebon. Dari semula sepuluh unit earphone yang merupakan bantuan Kemenkes, saat ini Dinkes Kota Cirebon sudah memiliki 100 unit earphone. 
 
Namun, jumlah itu pun belum mencukupi untuk mengikutsertakan seluruh ibu hamil di Kota Cirebon dalam program tersebut. "Hanya yang dipilih (ibu hamil) yang siap untuk generasi platinum," tegasnya.