Masjid Agung Baing Yusuf, Wisata Religi di Pusat Kota Purwakarta

Masjid Agung Baing Yusuf, Wisata Religi di Pusat Kota Purwakarta
Masjid Agung Baing Yusuf



INILAH, Purwakarta - Masjid Agung Baing Yusuf selama ini menjadi salah satu tujuan wisata religi di Kabupaten Purwakarta. Keberadaan makam sang tokoh penyebar agama Islam yang memiliki nama asli RH Moch Yusuf itu mungkin jadi daya tarik. 
 
Tak heran, hampir setiap hari banyak peziarah yang mendatangi makam Baing Yusuf. Mereka datang dari dalam dan luar kota. Bahkan di waktu-waktu tertentu yang berziarah itu sampai puluhan bus.
 
Pemakaman Baing Yusuf berada persis di belakang Masjid Agung Purwakarta, yang lokasinya berada di sekitar perkantoran pemkab. Menurut cerita, RH Moch Yusuf merupakan salah seorang tokoh ulama penyebar agama Islam di era 1800-an. 
 
Masjid Agung Purwakarta sendiri tak lain merupakan saksi sejarah dan salah satu peninggalan Baing Yusuf. Bahkan, saking kuatnya ikatan antara sang ulama dengan masjid tersebut, sampai tempat peristirahatannya pun tak jauh dari masjid tersebut.
 
Kabid Pariwisata dan Kebudayaan Disporaparbud Kabupaten Purwakarta Heri Anwar membenarkan, selama ini Masjid agung dan makam Baing Yusuf ini kerap menjadi tujuan wisata religi bagi masyarakat. "Tak hanya masyarakat lokal, para peziarah pun banyak di antaranya dari luar kabupaten," ujar Heri. 
 
Heri menjelaskan, lokasi wisata religi yang lokasinya persis di pusat kota itu tak pernah sepi dari pengunjung. Catatan yang ada di dinasnya, di tahun ini jumlah kunjungan ke Makam Baing Yusuf mencapai 21 ribu orang. "Ramainya itu, biasanya di waktu-waktu tertentu. Tapi, setiap hari juga suka ada sih yang datang," jelas dia.
 
Sementara itu, Pengurus Masjid Agung Baing Yusuf Purwakarta, RH Sanusi AS menceritakan sedikit sejarah tentang sosok Baing Yusuf. Dari silsilahnya, Baing Yusuf merupakan tokoh ulama kelahiran Bogor 1700-an. Ia datang ke Purwakarta, sekitar 1820. 
 
Saat itu, sambung dia, pusat pemerintahan Karawang berada di wilayah Wanayasa. Konon kabarnya, Baing Yusuf ini merupakan masih keturunan Raja di Kerajaan Padjajaran.
 
Pada 1826, lanjut Sanusi, Baing Yusuf mulai membangun masjid. Masjid tersebut, saat itu masih berada si tengah hutan belantara. Karena, pusat pemerintahan saat itu bukan di pusat Purwakarta. Melainkan, jauh ke wilayah selatan, yakni tepatnya di alun-alun Wanayasa.
 
Kemudian, masjid besar yang dibangun Baing Yusuf ini pada masanya dijadikan tempat syiar Islam di wilayah Purwakarta. Apalagi, saat itu pemeluk agama Islam masih sangat jarang. Makanya, Baing Yusuf mendirikan tempat untuk kajian agama Islam.
 
"Sejak kecil, beliau memang sudah sangat cerdas. Pada usia belia, Baing Yusuf sudah fasih Bahasa Arab. Lalu, saat usia 12 tahun, beliau hafal Al Quran. Bahkan, beliau pernah belajar Islam di Makkah, Arab Saudi," cerita Sanusi.
 
Pada 1830-an, sambung dia, pusat pemerintahan pindah dari Wanayasa ke Purwakarta. Perpindahan pusat pemerintahan ini, semakin berkembangnya penyebaran agama Islam. Apalagi, keberadaan Masjid Agung ini sangat strategis. Yakni, berdekatan dengan pusat pemerintahan (kantor bupati) dan ke sininya dekat dengan lembaga pemasyarakatan (Lapas).