7,2 Persen Anak di Purwakarta Alami Stunting

7,2 Persen Anak di Purwakarta Alami Stunting



INILAH, Purwakarta – Dinas Kesehatan Kabupaten Purwakarta,melansir ada 6.192 anak mengalami masalah pertumbuhan tubuhnya (stunting). Setelah ditelusuri, faktor penyebab utamanya karena anak tersebut kekurangan asupan gizi ketika masih dalam kandungan.

 

 

Kasie Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kabupaten Purwakarta Ine Hermina menuturkan, anak yang mengalami stunting tersebar di hampir seluruh kecamatan. Jika melihat data, kasus anak stunting terbilang cukup tinggi, meskipun jumlahnya hanya 7,2 persen dari anak di Purwakarta yang mencapai 86 ribu.

 

"Sebenarnya kurang dari 10 persen. Tapi kasus stunting ini sedang mendapat perhatian dari semua pihak. Termasuk pemerintah," ujar Ine kepada INILAH, Rabu (14/11/2018).

 

Menurut Ine, kasus stunting bisa terlihat saat anak berusia kurang dari dua tahun. Ciri-cirinya bisa terlihat jelas, terutama ketika anak dibawa ke posyandu. Kemudian saat diperiksa berat dan tinggi badannya terlihat tidak normal alias lebih pendek (kerdil).

 

"Anak dengan stunting akan terlihat lebih pendek (kerdil) dibandingkan teman seusianya," jelasnya.

 

Dampaknya, kata Ine, anak tersebut tidak bisa tumbuh dan berkembang dengan normal dan juga akan mudah sakit. Bahkan, yang paling parahnya fungsi otaknya tidak bisa bekerja optimal.

 

"Jadi, biasanya ketika dia dewasa baik fisik maupun pemikiran tidak bisa bersaing dengan anak yang pertumbuhan fisiknya normal. Sebab anak dengan stunting akan memiliki daya ingat yang kurang," sambung dia.

 

Untuk itu, pihaknya mengimbau kepada masyarakat terutama kaum perempuan supaya sejak dini memersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu. Misalkan, pengantin baru maka sebelumnya anaknya harus direncanakan.

 

Jika sudah direncanakan, maka asupan gizi ataupun perkembangan janin akan terus dipantau. Sebab, salah satu penyebab stunting ini karena kurangnya asupan gizi saat anak di dalam kandungan.

 

"Kalau kita tahu sedang hamil, minimalnya sering periksakan kesehatan ibu dan bayinya ke posyandu atau puskesmas," pungkasnya.