Banjir, Ribuan KK Menungsi di Bireuen Aceh

BNPB menyampaikan bahwa bencana banjir telah memaksa 1.443 keluarga yang terdiri atas 4.665 orang mengungsi di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.

Banjir, Ribuan KK Menungsi di Bireuen Aceh
BNPB menyampaikan bahwa bencana banjir telah memaksa 1.443 keluarga yang terdiri atas 4.665 orang mengungsi di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.


INILAHKORAN,Aceh - BNPB menyampaikan bahwa bencana banjir telah memaksa 1.443 keluarga yang terdiri atas 4.665 orang mengungsi di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.

Pusat Pengendalian Operasi BNPB mencatat hingga Sabtu (21/1) pukul 23.30 WIB banjir secara keseluruhan berdampak pada 4.364 keluarga yang terdiri atas 9.386 orang di delapan kecamatan di Bireuen, yakni Peudada, Jeunib, Sp Mamplam, Peulimbang, Peusangan Selatan, Kota Juang, Samalanga, dan Pandrah.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bahwa banjir menyebabkan 4.364 rumah dan delapan hektare sawah tergenang setinggi 25 hingga 100 cm di kecamatan-kecamatan tersebut.

Baca Juga : Kajol Ganjar Bagikan Sembako Murah dan Kartu BPJS Untuk Driver Ojol

​​​​​"Banjir terjadi pasca-hujan mengguyur wilayah tersebut pada pukul 04.30 waktu setempat," katanya dalam keterangan persnya, Minggu 21 Januari 2023.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bireuen sudah mengerahkan petugas ke daerah-daerah terdampak banjir untuk mendata dampak bencana, membantu mengevakuasi warga, dan menyalurkan bantuan bagi warga.

​​​​​​Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah menyampaikan peringatan dini berkenaan dengan potensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang dapat disertai angin kencang di bagian wilayah Provinsi Aceh pada Minggu (22/1) hingga Senin (23/1).

Baca Juga : PSSI Umumkan Daftar Bakal Calon, Erick Thohir Jadi Harapan Netizen

Selain itu, menurut BMKG kondisi cuaca ekstrem berpeluang terjadi di bagian wilayah Indonesia pada masa puncak musim penghujan.

Oleh karena itu, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan warga, khususnya yang berada di daerah rawan banjir, untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan.

Abdul Muhari menyampaikan, upaya mitigasi bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko bencana, termasuk di antaranya membersihkan saluran air, menyiapkan jalur evakuasi, dan menyiagakan tim siaga bencana di tingkat desa atau kampung.

Jika hujan menerus terjadi selama lebih dari satu jam dan jarak pandang memendek menjadi kurang dari 100 meter, ia mengatakan, maka warga yang tinggal di daerah aliran sungai serta daerah lereng sebaiknya melakukan evakuasi mandiri guna mengurangi risiko terkena dampak banjir atau tanah longsor. (Ant)


Editor : asayuti