• Fesyen, Budaya dan Modernitas Bisa Sinkron dengan Nilai Syar'i

    Oleh : Rianto Nurdiansyah08 Oktober 2018 09:29
    INILAH, Bandung - Perpaduan fesyen muslim dengan budaya Nusantara seperti batik mulai dilirik oleh para pelaku industri. Hal ini menandakan fesyen, budaya dan modernitas dapat sinkron dengan nilai syar'i.

    Seperti yang dilakukan Ninies Widosari, CEO Widosari Butique. Semula dia merasa gusar dengan adanya tanggapan nilai syar'i tak dapat bersanding dengan budaya dan modernitas. Karena itu, Ninies menggagas kegiatan Pesona Batik Fashion Muslim Nusantara pada Sabtu (6/10/2018) dan Minggu (7/10/2018).

    "Saya ingin memadukan batik dengan fesyen muslim. Antara budaya setempat dengan fesyen muslim," ujar Ninies di sela talkshow Iman dan Keindahan: Di Antara Fesyen, Budaya, dan Modernitas di The Jayakarta Hotel Bandung, Minggu (7/10/2018).

    Dalam kegiatan ini, dia mengajak para peserta yang dominan para hijabers untuk membatik bersama di sanggarnya di Kota Cimahi. Hal ini dilakukan agar para peserta bisa mendapatkan pengalaman membatik dan mendalami tradisi budaya.

    Selain itu, Ninies pun menggelar diskusi dengan para hijabers untuk mengupas pandangan mereka antara dunia hijab dengan budaya. Termasuk saat perempuan muslimah menjalani perintah berbusana sesuai dengan aturan Tuhannya.

    "Dalam diskusi itu juga kita bahas budaya, yakni batik itu enggak perlu kok ditabrakan dengan aturan Islam. Karena secara umum segalanya sesuai, sah saja jika tidak bertentangan dengan syariat Islam, termasuk dalam berbusana menggunakan batik," tuturnya.

    Di sisi lain, sebagai pelaku industri fesyen muslim, Nines sempat cukup terusik dengan kontroversi yang digaungkan elite politik. Misalnya saja membandingkan konde dengan cadar atau kidung dengan azan.

    Hal ini katanya malah membuat jarak antara budaya dengan syariat semakin renggang. Padahal budaya bisa berdampingan dengan syariat jika tidak melanggar batasnya masing-masing.

    "Saya sempat panas juga saat ditabrakan antara konde dengan cadar atau kidung dengan azan. Terus terang saya meradang panas tidak mau seperti itu. Makanya saya sekarang membuktikan kalau syariat dengan budaya itu bisa berdampingan," pungkasnya.

    TAG :


    Berita TERKAIT