• Atap Class Eurasia ‎Majukan Industri Musik Lewat Sejarah

    Oleh : Agus03 September 2018 20:17
    INILAH, Bandung - Atap Class Eurasia 2018 memberikan suguhan ilmu dan wawasan tentang musik secara universal dari berbagai sudut pandang yang berbeda serta menarik untuk diikuti.

    Kolaborasi dalam seni musik menjadi sebuah kunci kemajuan industri musik internasional. Pola kolaboratif yang dimainkan masing-masing peran memberikan spirit keterbukaan atas lahirnya karya-karya baru di ranah musik Indonesia.

    Perjalanan Naratas Akar, Atap Class Eurasia 2018 ke Helsinki, Oslo, dan Kuching membawa cerita untuk masyarakat luas, terutama komunitas musik, akademisi, korporasi, dan pemerintah, untuk semakin menguatkan sinergitas terhadap pengelolaan industri musik dan budaya Indonesia.

    ‎Seluruh perjalanan yang dilakukan tiga penulis Atap Class Astria Fadhilah Primantari, Dini Nurdiyanti, dan Hinhin Agung Daryana yang dirangkum dalam berbagai program menarik untuk dipelajari mulai pameran foto perjalanan Naratas Akar Atap Class Eurasia 2018, Movie Screening, Talkshow, Expert Meeting dengan tema "Kehancuran Industri Musik Indonesia", Skill Skool kelas musik elektronik, kelas Merchandising, kelas Sleborisme, dan Creative Market.

    Tiga penulis sukses mempresentasikan karya tentang eksplorasi sejarah dan akar musik indie Kota Bandung 1990 hingga kini di ajang Modern Heavy Metal Conference (MHMC) 2018 di Aalto University, Helsinki, Finlandia (25/6) hingga (8/7) lalu, dan yang menarik hasil penelitian berkolerasi erat dengan penulisan buku "Bandung Bawahtanah" yang digarap sejak 2016 oleh kolektif Atap Class.

    ‎Naratas Akar, Atap Class Eurasia 2018 digelar mulai (3/9) hingga (7/9) di Bandung Creative Hub (BCH) Jalan Laswi No. 7 Bandung.

    ‎Program ini sukses digelar berkat inisiasi Atap Class Dengan DCDC Dreamworld dan Atap Promotions, serta mendapat dukungan penuh oleh Wellborn dan kawan-kawan yang peduli dan perhatian besar bagi perkembangan dan gerakan penelitian musik independen Bandung.

    ‎Dini Nurdiyanti, penulis dari Atap Class mengatakan dalam proses perjalanannya tak semudah dibayangkan. "Banyak kendala yang kita hadapi dalam prosesnya, mulai dari keberangkatan hingga proses penggarapan dalam mencari data-data yang dibutuhkan," katanya.

    Kimung, perwakilan Atap Class mengatakan, hal ini merupakan program penelitian yang berkaitan dengan tempat-tempat musik yang ada di Bandung, dan merupakan kegiatan bulanan.

    "Kelas di BCH digelar selama lima hari dan menyuguhkan berbagai materi yang menarik dan berbeda," ujarnya.

    Dia menambahkan, semua kegiatan yang digelar menjadi faktor pendukung dalam penulisan buku “Bandung Bawah Tanah”. (jul)


    TAG :


    Berita TERKAIT