• Headline

    Burgerkill Pertanggungjawabkan Karyanya di Pengadilan Musik

    Oleh : Rianto Nurdiansyah05 Mei 2018 10:10
    fotografer: Rianto Nurdiansyah
    INILAH, Bandung-Dibentuk di sudut Timur Kota Bandung 1995 lalu, Burgerkill banyak melakukan inovasi pada karya musiknya. Salah satunya ketika band yang digawangi Ebenz (gitar), Agung (gitar), Vicky (vocal), Ramadan (bass) dan Putera (drum) ini memadukan metal dan orkestra.

    Itu ketika mereka terbang ke Praha, Republik Ceko untuk merekam enam lagu bersama Czech Symphonic Orchestra. Kesempatan tersebut terselenggara di bawah naungan program DCDC Dream World, Maret lalu.

    Mengenai itu, raksasa band metal Indonesia ini dapat kesempatan diadili oleh DCDC Pengadilan Musik di Kantin Nasion The Panas Dalam, Jalan Ambon, Kota Bandung, Jumat (4/5) Malam.

    Mereka dihujami pertanyaan oleh dua Jaksa Penuntut Pidi Baiq dan Budi Dalton. Sebagai 'terdakwa' Burgerkill didampingi oleh tiga pembela sekaligus, yakni Andre (Jeruji) Gebeg (Taring) Yoga (PHB). Dipandu oleh Wanda Urban, tak ada ketegangan di wajah mereka. Malahan gelak tawa selalu mengiringi proses pengadilan.

    Dalam persidangan, Budi Dalton melayangkan pertanyaan, siapa yang menjadi inspirasi Burgerkill mengkolaborasikan metal dengan orkestra. dengan tegas, gitaris Eben mengungkapkan bahwa mereka terinfluence oleh beberapa band mancanegara yang juga melakukan inovasi yang sama. Diantaranya Metalica.

    Para begundal (fans Burgerkill) yang hadir dalam jalannya sidang pun langsung tertawa tatkala Budi Dalton kembali melayangkan pertanyaan kocak. Dia bertanya, kenapa harus berkolaborasi dengan orkestra tidak dengan badminton.
    Dengan tenang Ebed menjawab, bahwa bandnya kerap melihat video konser musisi mancanegara. Beberapa diantarnya memang ada pula yang berkolaborasi dengan orkestra. Karena itu mereka berpendapat bahwa musik Burgerkill bakal lebih luas dan megah bilamana melakukan inovasi yang sama.

    "Dengan intesintas musiknya Burgerkill itu kalau diselipkan nuansa klasikal orkestra itu akan kerasa moodnya. Makanya orkestra saja," ujar Ebed


    Kembali Budi bertanya, mengapa harus merekam di Praha tidak memilih di Indonesia saja. Pertanyaan ini pun masih ditanggapi Eben, bahwa semula memang Burgerkill akan merekam di negeri ini. Namun, pihaknya menemukan aranger, yakni Alvin Witarsa yang merekomendasikan. Memang, tambah Ebed, jika memperhitungkan waktu dan Sumber Daya Manusia (SDM) di Praha jelas lebih maksimal.

    Sementara itu, sang vokalis Vicky ikut menambahkan, bahwa selama rekaman bandnya hanya punya waktu empat jam. Hasilnya, enam lagu dikemas dalam durasi yang cukup singkat itu oleh bantuan para musisi orkestra asal Praha.

    "Kelebihan secara kinerja mereka bisa mempertanggung jawabkan. Kita enggak ada briefing, cuma ngasih partitur. Padahal mereka enggak tahu lagu kita seperti apa," kata Vicky.

    Hasil kerja keras mereka di Praha lantas digarap dalam format konser dengan tajuk DCDC x Hellshow "Killchestra" di Sasana Budaya Ganesa, Kota Bandung pada 15 April 2018 lalu.

    Tak sampai di situ, Burgerkill juga menghantam para begundal dengan rilisan album anyar, yakni Adamantine. Nomor-nomor pada album ini pun jadi landasan para jaksa untuk kembali bertanya.

    Pidi Baiq mempertanyakan, kenapa pada album tersebut ada satu lagu milik Iwan Fals, yaitu 'Air Mata Api'. Dan mengapa bukan lagu 'Si Budi Kecil'. Ebed kembali menjelaskan soal ini. Dia sampaikan, bahwa tahun 2013 lalu Burgerkill pernah berkolaborasi dengan Iwan Fals, di mana lagu 'Air Mata Api' dicover kembali oleh bandnya. Setelah dibawakan ulang, Burgerkill merasakan secara lirik dan musik, lagu milik legenda penyanyi balada tersebut mencerminkan identitas mereka.

    Selanjutnya, pemutaran video klip teranyar Burgerkill juga diputar sebagai bukti persidangan.

    Tiba saatnya Man Jasad sebagai Hakim memutuskan persidangan yang katanya penuh dengan kewibawaan, walaupun tetap mengundang gelak tawa. Man memutuskan bahwa karya dari Burgerkill layak dan bisa dipertanggungjawabkan dengan baik.

    Perwakilan dari DCDC, Ryan Irsyad mengatakan bahwa ini ke-23 kali Pengadilan Musik digelar. Dia tak menampik, bahwa animo pengunjung pada kali ini lebih besar dari pada sebelumnya.

    "Kita bisa lihat banyak begundal yang datang hari ini sampai berdiri dan tidak kebagian meja," ujar Ryan disela acara.

    Ryan sampaikan, Burgerkill memang band metal paling 'berbahaya' di Indonesia. Tak hanya di dalam negeri, namun mereka acap kali menjalani tour ke luar Indonesia. Itu salah satu alasan pihaknya mengundang Burgerkill untuk berada di kursi pesakitan.

    "Bahwa bintang tamu saat ini memiliki massa pendukung yang besar dan dibentuk di Kota Bandung," pungkasnya.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT