• Headline

    Ribuan Hektare Padi di Indramayu Kritis

    Oleh : erika17 Agustus 2018 14:25
    fotografer: Erika Lia Lestari
    INILAH, Indramayu- Ribuan hektare tanaman padi di sejumlah wilayah di Kabupaten Indramayu masih kritis akibat kekeringan. Di Cirebon, warga berebut air bersih yang dibagikan Polres Cirebon.

    Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, Takmid Sarbini mengungkapkan, tanaman padi yang kini kritis di antaranya ditemukan di Desa Pranti, Curug, Wirakanan, dan Ilir, di Kecamatan Kandanghaur seluas lebih dari 2 ribu hektare. Pengairan di lahan tersebut bersumber dari PJT II Jatiluhur.

    Tanaman padi yang kritis pula tersebar di daerah lain di Kecamatan Kandanghaur dan Gabuswetan, seluas sekitar 400 hektare. Berbeda dengan Kandanghaur, pengairan bagi lahan dia dua kecamatan ini berasal dari Bendung Rentang, Kabupaten Majalengka.

    "Penggelontoran air masih jalan, sedang kami genjot daerah-daerah yang kritis," ungkap Takmid.

    Dia menyebutkan, berdasarkan data per 31 Juli 2018, luas lahan yang puso di Kabupaten Indramayu mencapai 624 hektare. Namun begitu, pendataan masih terus dilakukan pihaknya.

    Sementara, disinggung mengenai kesulitan petani Indramayu mengklaim asuransi pertanian, dia menyatakan hal itu hanya kesalahpahaman. Situasi itu terjadi akibat persyaratan asuransi yang belum terpenuhi sejauh ini.

    "Tapi sekarang sudah terselesaikan," klaimnya.

    Dia menambahkan, peminat asuransi pertanian di Indramayu masih minim. Padahal, program itu telah berjalan sejak 2015. Sosialisasi pun terus dilakukan.

    Diberitakan sebelumnya, penggelontoran air irigasi dari Bentung Rentang telah dilakukan pada 1-7 Agustus 2018. Upaya itu untuk menyelamatkan ribuan hektare tanaman padi yang terancam puso di tiga kecamatan, masing-masing Kandanghaur, Losarang, dan Gabuswetan.

    Sayang, upaya itu tak optimal dan justru dinilai terlambat karena dilakukan kala padi kritis. Camat Kandanghaur, Iim Nurahim mengatakan, total luas lahan yang pengairannya bersumber dari Bendung Rentang dan terancam puso di wilayahnya mencapai sekitar 2.300 hektare. Dari luas tersebut, 70% atau sekitar 1.610 hektare tak bisa terselamatkan dan gagal panen (puso).

    "Hanya sekitar 30% (690 hektare) saja yang terselamatkan," kata Iim.

    Terpisah, Polres Cirebon diketahui menyalurkan 12 ribu liter air bersih bagi warga di Desa Slangit, Kecamatan Klangenan, Kabupaten Cirebon. Pembagian air dilakukan menggunakan kendaraan water canon, sementara warga menampung air bersih ke dalam ember maupun jerigen yang mereka bawa.

    Kapolres Cirebon, AKBP Suhermanto menyebutkan, pembagian air bersih dilakukan di tiga blok yang menjadi titik kekeringan terparah di desa tersebut. Pemberian dilakukan dalam rangka membanti warga desa tersebut yang pada kemarau kali ini mengalami kekurangan air bersih.

    "Sekitar enam bulan terakhir warga di desa ini krisis air bersih. Kami harap bantuan ini bermanfaat bagi mereka," tuturnya.

    Warga sendiri mengaku terbantu dan mengapresiasi atas langkah Polres Cirebon tersebut. Mereka telah lama menantikan air bersih guna memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    "Kalau mau dapat air bersih untuk mandi atau mencuci harus jalan sekitar dua kikometer. Kalau untuk minum, terpaksa beli," ungkap seorang warga, Suneri.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT