• Headline

    Kejagung Periksa Gedung Baru Setda Kota Cirebon

    Oleh : erika09 Agustus 2018 17:14
    INILAH, Cirebon- Kejaksaan Agung (Kejagung) menyelidiki pembangunan gedung baru Sekretariat Daerah (Setda) Kota Cirebon yang dinilai berpotensi adanya penyimpangan.

    Tim Kejagung dipimpin Irwan Sinuraya beserta anggota tim intelijen Kejagung RI Kamis (9/8) mendatangi gedung Setda berlantai delapan yang sampai kini masih dalam proses pembangunan.

    Saat meninjau, tim sedianya berencana menggunakan lift. Namun, dengan alasan operatornya tengah tak bertugas, tim pun kemudian menggunakan tangga hingga ke lantai teratas.

    Dalam peninjauan itu, tim menemukan konstruksi tangga tak menyatu dengan dinding bangunan. Tanpa sekat pemisah, keberadaan celah antara tangga dan dinding menyebabkan kerawanan kecelakaan.

    Tim juga menemukan tiang penopang yang tak simetris satu sama lain, keramik yang lepas, hingga semen yang terkelupas di sejumlah titik.

    Selain itu, ditemukan pula lantai dari kayu atau vinyl yang menggelembung di beberapa lantai, serta ketidaksempurnaan lain.

    Di bagian basemen, atap yang ditutupi aluminium foil terlihat melengkung, bahkan ada pula yang nyaris ambrol. Sejumlah toilet di basemen pun belum sepenuhnya selesai dikerjakan, bahkan ada yang tergenang air.

    "Kami ke sini (gedung setda) ada surat perintah tugas. Untuk menindaklanjuti yang dulu kami pernah ke sini," ungkap Irwan.

    Irwan menyatakan, ada potensi penyimpangan dalam pembangunan gedung setda itu. Hanya, pihaknya masih perlu mengumpulkan bahan sebelum memastikan pelanggaran hukumnya.

    Pihaknya juga akan memanggil sejumlah pihak yang terlibat dalam pembangunan gedung ini.

    Setelah itu, pihaknya baru akan menganalisa dan menyarankan tindakan selanjutnya, salah satunya bisa pula ditingkatkan ke pidana khusus (pidsus). Dia meyakinkan, pemantauan yang mereka lakukan merupakan penyelidikan intelijen.

    "Setelah informasi, data, dan fakta, sudah terkumpul akan segera ditindaklanjuti. Bisa langsung oleh gedung bundar, bisa juga diserahkan ke Kejari Kota Cirebon, terserah pimpinan," bebernya.

    Sementara itu, Taryanto, perwakilan kontraktor menyebutkan, masih ada pemeliharaan sekitar enam bulan setelah berakhirnya perpanjangan kontrak (addendum). Selama masa pemeliharaan itu, pihaknya berupaya melakukan perbaikan, meski belum mendapat pembayaran.

    Disinggung pembangunan yang tak sesuai perencanaan, Taryanto pun berkilah tiada gambar yang ideal. "Kalau ngobrol masalah teknis dan gambar, tidak ada yang ideal," tukasnya.

    Diketahui, Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon membangun gedung Setda delapan lantai untuk menggantikan bangunan kantor yang dinilai sudah tak layak.

    Pada 2016, dianggarkanlah Rp86 miliar untuk pembangunan gedung baru yang didirikan di atas lahan yang sama dengan merubuhkan bangunan perkantoran lama, kecuali kantor wali kota yang menempati gedung cagar budaya (heritage).

    Gedung baru dibangun sejak November 2016 dengan target selesai sesuai kontrak pada Desember 2017. Selanjutnya, pada September 2018 gedung tersebut sudah bisa digunakan.

    Nyatanya, hingga Desember 2017, pembangunan belum rampung hingga akhirnya pemkot menempuh addendum atau perpanjangan kontrak hingga Februari 2018. Namun, hingga adendum selesai, pembangunan gedung tak kunjung selesai.

    Akhirnya, pada 10 April 2018, Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Asep Dedi, menghentikan pembangunan gedung untuk memastikan nilai proyek yang harus dibayarkan Pemkot Cirebon. Hanya, meski telah dihentikan, sejumlah pekerja masih terlihat bekerja di sejumlah titik di gedung tersebut hingga kini.

    TAG :


    Berita TERKAIT