• Headline

    Tak Terdaftar Asuransi, Petani Indramayu Merugi

    Oleh : erika09 Agustus 2018 14:38
    fotografer: Ilustrasi
    INILAH, Indramayu- Para petani yang mengalami gagal panen (puso) di Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, harus menanggung sendiri kerugian setelah diketahui tak terdaftar asuransi pertanian.

    Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kecamatan Kandanghaur, Waryono mengungkapkan, rata-rata petani telah mengeluarkan modal Rp6 juta/hektare untuk biaya tanam. Selain itu, petani juga kehilangan pendapatan dari hasil panen.

    "Rata-rata petani di Kandanghaur tak ada yang ikut asuransi pertanian," ungkapnya.

    Dia menuturkan, berdasarkan pengakuan para petani yang sempat mendaftar asuransi, mereka mengalami penolakan karena lahan pertaniannya tak termasuk wilayah irigasi teknis. Lahan mereka merupakan tadah hujan.

    Selain itu, para petani di Kecamatan Kandanghaur juga baru mulai tanam pada akhir April hingga awal Mei. Padahal, syarat tanam untuk ikut asuransi harus paling lambat awal April.

    Sebagaimana diketahui, ribuan hektare tanaman padi di tiga kecamatan di Kabupaten Indramayu gagal panen (puso) akibat upaya pengairan yang terlambat. Selain Kandanghaur, dua kecamatan lain yakni Losarang dan Gabuswetan.

    Camat Kandanghaur, Iim Nurahim menyebutkan, total luas lahan yang pengairannya bersumber dari Bendung Rentang, Kabupaten Majalengka, dan terancam puso di wilayahnya sekitar 2.300 hektare. Dari luas tersebut, 70% atau sekitar 1.610 hektare tak bisa terselamatkan dan puso.

    "Hanya sekitar 30% atau 690 hektare saja yang terselamatkan," ungkap Iim.

    Dia mengatakan, puso diakibatkan keterlambatan datangnya pasokan air dari Bendung Rentang. Ketika penggelontoran air selama sepekan dimulai 1 Agustus 2018, kondisi padi sudah di ujung tanduk. Tak ayal banyak sawah yang tetap tak bisa terselamatkan.

    Terpisah, Wakil Bupati Indramayu, Supendi menyatakan, demi meringankan beban para petani yang mengalami puso, sebenarnya ada program asuransi pertanian. Karenanya, dia meminta pihak asuransi mempermudah keinginan petani di Kabupaten Indramayu untuk turut asuransi pertanian.

    "Jangan sampai ada petani yang berniat masuk asuransi (pertanian), ternyata dipersulit. Petani harus diproteksi," tegasnya.

    Pemkab Indramayu sendiri dimungkinkan ya menjembatani petani dengan pihak asuransi. Hanya, imbuhnya, pihaknya harus lebih dulu mengamati regulasi yang mengikatnya. Identifikasi terhadap lahan-lahan yang puso berikut pemiliknya pun akan dilakukan terkait bantuan dari Pemkab Indramayu.

    Sementara itu, Kepala Seksi Rehabilitasi Perlindungan Tanaman Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu, Rustanto menjelaskan, untuk mengikuti asuransi pertanian, petani diharuskan membayar premi Rp36 ribu/hektare/musim tanam. Sementara, klaim yang diperoleh petani mencapai Rp6 juta/hektare.

    "Klaim asuransi bisa diperoleh bila sawah kekeringan, kebanjiran, maupun serangan organisme pengganggu tanaman (OPT)," paparnya.

    Sebagaimana Data Nominatif Kelompok Tani Penerima Bantuan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) pada Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu Tahun Anggaran 2018, sejak Desember 2017-Juni 2018 tercatat 3.454,494 hektare sawah di berbagai kecamatan yang menerima bantuan tersebut. Wilayah terluas penerima bantuan AUTP yakni Kecamatan Karangampel dengan 671,92 hektare.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT