• Headline

    Harga Garam di Kabupaten Cirebon Terus Merosot

    Oleh : erika19 Juli 2018 16:31
    INILAH, Cirebon- Harga garam di tingkat petani di Kabupaten Cirebon makin merosot di tengah panen yang tengah dijalani.

    Mereka pun mencemaskan kemungkinan harga garam yang disinyalir dikendalikan tengkulak lebih jatuh lagi.

    Di Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, sebagai salah satu daerah sentra garam, harga garam saat ini sekitar Rp600/kg.

    Harga itu dipandang terburuk setelah sejak awal panen merosot berturut-turut.

    “Akhir Mei lalu, harga garam Rp2 ribu/kg. Waktu itu, baru 1-2 petani yang memanen lahan garamnya,” ungkap seorang petani garam di Desa Rawaurip, Warpin.

    Masih dalam kondisi belum banyak petani yang panen pada sekitar pertengahan Juni, harga garam turun menjadi Rp1.600/kg. Harga itu tak berlangsung lama ketika kemudian kembali turun menjadi Rp1.200/kg.

    Pada akhir Juni, tak disangka harga garam di tingkat petani kembali turun menjadi hanya Rp1.000/kg, sebelum diikuti menjadi Rp800/kg di awal Juli. Hingga kini di pertengahan Juli, Warpin menyebut, harga garam menjadi Rp600/kg.

    “Penimbang (tengkulak) menurunkan harga garam menjadi Rp600/kg,” cetusnya.

    Warpin menyebutkan, dia dan petani garam lain di desa itu telah mengolah lahan garam selama lebih dari satu bulan. Namun, ketika mereka panen, tengkulak terus menurunkan harga di tingkat petani hingga dinilai merugikan mereka.

    Sebagaimana diketahui, selama ini harga garam, khususnya di sentra garam, ditentukan para tengkulak. Kondisi itu diakibatkan rata-rata petani garam memiliki utang kepada tengkulak.

    Dalam perjanjiannya, mereka tak bisa menjual garam hasil panennya kepada pihak lain, kecuali tengkulak.

    “Yang utang ke tengkulak nilainya bervariasi, mulai Rp500 ribu sampai Rp1,5 juta. Utang ini semacam pengikat supaya panen garamnya tak dijual kepada yang lain,” cetus Warpin.

    Petani garam lainnya, Tauhid mengeluhkan terus merosotnya harga garam. Dia menyebutkan, ribuan petani garam telah mengolah lahannya, namun tak memproleh hasil manis dari usahanya.

    “Kami heran sebab harga garam terus turun. Padahal, kebutuhan garam masih belum cukup karena tahun ini baru sekarang panen dan itu pun produksinya tak banyak karena terganggu cuaca,” bebernya.

    Mereka pun berharap, pemerintah sanggup mengatasi persoalan harga garam di tingkat petani yang seolah dipermainkan pihak tertentu. Mereka mengkhawatirkan kemungkinan para tengkulak dalam waktu dekat kembali menurunkan harga.

    Sementara itu, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislakan) Kabupaten Cirebon, Ita Rohpitasari berjanji akan mengupayakan stabilitas harga garam bersama instansi terkait lain yang berwenang dalam hal harga garam, yakni Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagin) Kabupaten Cirebon.

    Wewenang Dislakan dalam hal ini, menurutnya, lebih pada mengusahakan peningkatan kualitas produksi garam petani.


    TAG :


    Berita TERKAIT