• Dorong Petani Tanam Kedelai Varietas Lokal

    Oleh : Doni Ramdhani14 September 2018 19:37
    fotografer: Doni Ramdhani
    INILAH, Bandung - Menguatnya kurs dolar AS berdampak pada industri makanan olahan berbahan baku kedelai. Pasalnya, selama ini perajin tahu dan kedelai lebih memilih kacang kedelai impor sebagai bahan baku. Ketergantungan kadelai impor itu berdampak pada fluktuasi harga tahu dan tempe di tingkat pasar.

    Menanggapi hal itu, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) memiliki pandangan sendiri. Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto mengatakan, ketergantungan itu sebenarnya bisa diatasi jika petani didorong membudidayakan kedelai varietas lokal.

    Menurutnya, Batan menghasilkan bibit sepuluh varietas kadelai lokal. Kedelai yang dihasilkan diakuinya lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik. Kedelai untuk kebutuhan pembuatan tahu dan tempe pun diakuinya ada.

    "Tantangan industri tahu dan tempe di Indonesia itu bukan hanya varietas. Sebenarnya, kita memiliki sepuluh varietas kedelai lokal unggulan. Masalahnya, bagaimana pemerintah mendorong petani untuk mau menanam kedelai lokal untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor," kata Djarot, beberapa waktu lalu.

    Selain itu, faktor tata niaga kedelai pun sejauh ini masih tergantung impor. Namun, Djarot mengakui karena pihaknya hanya mengurusi bidang penelitian dan pengembangan saja maka Batan cukup hanya menghasilkan varietas unggulan.

    "Padahal, kalau dikompetisikan antara kedelai impor dan kedelai lokal kita berani. Kedelai untuk tempe yang harus besar pun kita punya. Kita sudah mempublikasikan. Intinya, kalau kurs dolar itu naik sebaiknya kita kurangi impor. Pokoknya, apa yang bisa diproduksi, kita produksi," ujarnya.

    Dari informasi yang dihimpun, hingga 2015 lalu Batan menghasilkan sepuluh varietas kedelai. Yakni, varietas Muria, Tengger, Meratus, Rajabasa, Mitani, Mutiara 1, Gamasugen 1, Gamasugen 2, Mutiara 2, dan Mutiara 3. Khusus varietas Mutiara 2 potensi hasilnya mencapai 3 ton/ha. Sedangkan, varietas Mutiara 3 potensi hasilnya 3,2 ton/ha.

    Hasil penelitian dan pengembangan kadelai varietas lokal itu merupakan bentuk komitmen Batan mendukung program kedaulatan pangan. Hal itu tercapai dengan penerapan teknologi nuklir yang manfaatnya dapat langsung dirasakan masyarakat.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT