• Headline

    Menjawab Wacana soal Netty Prasetyani

    Oleh : Kang Aher07 Maret 2016 10:29

    SEPEKAN terakhir, ketika berhadapan dengan wartawan, saya merasa seperti lebih menjadi suami wanita bernama Netty Prasetyani ketimbang Gubernur Jawa Barat. Sebab, selama rentang waktu itu, pertanyaan "yang menurut wartawan asyik ditanyakan " ke saya adalah soal wacana pencalonan istri saya pada Pilkada Jawa Barat 2018.


    Tentu, jika pertanyaan itu yang diajukan, posisi saya bukanlah sebagai Gubernur Jabar, tetapi sebagai pria yang pada 13 Januari 1991 lalu menyunting Netty Prasetyani. Sebagai suami, sebagai kepala rumah tangga.


    Sebenarnya, ada juga rasa enggan saya menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu karena beragam hal. Pertama, Pilkada Jabar sendiri baru berlangsung 2018 nanti. Tahapannya pun baru muncul tahun depan. Jangankan setahun-dua, dalam politik, perubahan bisa muncul setiap detik. Jadi, waktunya masih sangat panjang dan segala perubahan sangat mungkin terjadi.


    Kedua tentu karena yang ditanyakan soal istri saya sendiri. Bagaimana mungkin saya menilai istri saya dalam konteks politik yang bisa dipandang orang dengan beragam sudut. Kalaupun pernyataan saya jujur, tentu banyak pula orang yang menilainya secara skeptis, menduga bahwa saya hanya menyampaikan hal-hal baik saja tentang istri saya.


    Terlebih lagi, isu soal keluarga petahana, masih jadi persoalan sensitif dalam cara pandang demokrasi kita. Seolah-olah cita-citanya hanyalah untuk melanggengkan kekuasaan (padahal bagi saya, menjadi gubernur itu bukanlah kekuasaan, melainkan lebih besar pengabdian).


    Tapi, satu hal yang perlu saya akui secara jujur, adalah bahwa saya merasa bersyukur mendapat pendamping seorang Netty Prasetyani. Jujur saja, selama delapan tahun memimpin Jabar, istri saya adalah salah satu sumber energi yang membuat saya tak lelah berupaya membangun provinsi ini. Tak hanya pemberi semangat, tapi juga masukan-masukan yang menurut saya besar manfaatnya dalam masa tugas saya sebagai gubernur.


    Dalam beberapa hal, saya malah terinspirasi oleh istri saya. Pergerakannya begitu gesit untuk ikut memberi sumbangsih bagi kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Jabar. Itu terlihat betul dari beragam aktivitasnya yang peduli terhadap perempuan dan anak-anak di Jabar. Kadang-kadang, istri saya tak bisa mendampingi pada acara-acara resmi karena dia memiliki agenda lain bersama rekan-rekannya. Saya sadari itu, saya maklumi itu, karena sejak awal saya sudah tahu tak mungkin merenggut jiwa aktivis dari badannya.


    Tentu, saya juga berhak bangga ketika apa yang dilakukan istri saya, ternyata juga mendapat apresiasi dari pihak-pihak luar yang kadang-kadang berada di luar persangkaan saya. Misalnya, ketika istri saya mendapat anugerah Local Hero dari Kedutaan Besar AS atas perannya memerangi praktik perdagangan manusia. Siapa yang menyangka akan ada pengakuan seperti itu, dari Kedubes AS lagi. Saya yakin, haquul yakin, Netty melakukan semua itu demi kemaslahatan masyarakat, bukan untuk mengejar penghargaan, apalagi kedudukan.


    Selain sumber energi dan memberi inspirasi, istri saya juga seorang pengingat saya ke arah kebaikan. Saya belum lupa sama sekali apa yang dia ungkapkan di Alun-alun Kawali, Kabupaten Ciamis, pada Selasa, 12 Februari 2013 lalu. Dia bilang, akan terus mengawal dan mengingatkan saya agar terhindar dari tindak tanduk koruptif.


    Hampir setiap malam, komitmen antikorupsi itu menjadi bahan diskusi kami, sebelum tidur. Dialog-dialog seperti itu kian meneguhkan saya untuk tidak menyalahgunakan jabatan yang saya emban ini.


    Lalu, apakah dengan begitu saya mengizinkan istri saya untuk maju pada Pilkada Jabar 2018? Bagi saya, biarkanlah semuanya mengalir sebagaimana mestinya. Apakah nama Netty Prasetyani tahun depan akan tercantum dalam daftar calon gubernur di Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jabar, biarlah Allah Swt yang menentukan sesuai garis takdirnya.


    Satu hal yang ingin saya tegaskan, hanya ada tiga syarat dari saya jika istri saya memang harus maju pada Pilkada tersebut. Ketiganya tak boleh ditawar-tawar. Pertama, hal tersebut harus bertujuan untuk kemaslahatan masyarakat, harus semata-mata ditujukan untuk membawa kebaikan bagi masyarakat Jabar. Artinya, jika saja Allah Swt menakdirkan istri saya memimpin Jabar, maka pola pemerintahan yang dia bangun harus prorakyat dan saya yakin setelah melihat segala aktivitasnya untuk Jabar selama ini, dia menginginkan hal serupa. Kedua, secara politis tentu juga harus mendapat dukungan dari masyarakat Jabar. Ketiga, istri saya memang bersedia maju.


    Syarat ketiga ini tampaknya sudah mendapatkan sinyal dari istri saya. “Insya Allah, siap,” katanya. Yang membuat saya bangga tentu karena kesiapannya itu dia landaskan pada keyakinan masyarakat kalau dirinya bisa membawa kebaikan dan pantas dicalonkan. (*)


    TAG :


    Berita TERKAIT