• Headline

    Langkah Mengganti Benny, Pakar Nilai Alasan Oded Kurang Kuat

    Oleh : Asep Pupu Saeful Bahri09 Oktober 2018 19:31
    INILAH, Bandung - Pakar hukum, politik dan pemerintahan Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung, Asep Warlan Yusuf cukup heran apabila Wali Kota Bandung, Oded Muhammad Danial menolak untuk melantik Benny Bachtiar menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bandung.

    Asep menilai secara aturan pemilihan Benny sudah melalui prosedur yang berlaku. Termasuk ketika mengikuti lelang jabatan atau open bidding, yang proses itu menegaskan siapapun orangnya bisa menjadi sekda definitif Kota Bandung asalkan bisa lolos seleksi.

    "Kan open bidding hakekatnya nasional, siapa aja kan boleh namanya juga open bidding. Beda lagi kalau terbatas, misalkan khusus di lingkungan Provinsi Jawa Barat atau Kota Bandung, itupun harus ada persetujuan dari Komisi ASN yang akan menentukan bisa atau gak, tapi kalau ini kan sudah ada dibuka open bidding," kata Asep lewat sambungan telepon, Selasa (9/10).

    Apabila ternyata ada penolakan terhadap Benny untuk menjadi sekda definitif Kota Bandung, Asep mempertanyakan kenapa hal itu tidak dilakukan sejak awal. Dengan lolosnya Benny dalam jajaran tiga besar kandidiat kuat dalam open bidding, menunjukkan kualifikasinya telah memenuhi syarat dalam berbagai aspek.

    Asep mengatakan jika saat ini Oded ingin mengganti Benny harus disertai alasan sangat kuat. Semisal, sambung dia, ada pertimbangan objektif seperti berkenaan dengan kasus hukum, ataupun ada kelebihan dari Ema Sumarna yang diajukan oleh Oded kepada Kemendagri untuk menggeser Benny.

    "Makanya aneh ketika alasan itu (penolakan oleh ASN) pasti tidak akan lolos, ini kan sudah sampai 3 nama, berarti proses pengetahuan tentang Bandung juga sudah teruji. Beda lagi ada kasus hukum atau menyalahgunakan kewenangannya, tapi kalau semua sudah sesuai prosedur dan substansi selesai," bebernya.

    Dengan alasan yang dipaparkan oleh Oded sebelumnya, Asep menilai penolakan oleh ASN ataupun dari DPRD Kota Bandung justru kurang kuat.

    Bahkan, dia melihat pertimbangan Oded justru terkesan gamang. "Banyak orang keberatan dan keberatan itu sebenarnya apa, bagaimana pun harus disampaikan kepada publik, kalau memang ada keberatan dari DPRD juga. Sekarang justru masalah ini semakin liar ke mana-mana dan meninbulkan prasangka di kalangan masyarakat," terangnya.

    Untuk menuntaskan persoalan ini, Asep berharap Kemendagri bisa memanggil Ridwan Kamil dan Oded untuk memutuskan apakah rekomendasi sekda definitif yang sebelumnya sudah diberikan pada Benny perlu dianulir. Kemudian dibahas kembali mengenai seberapa krusial Ema bisa dijadikan sebagai pengganti.

    "Sebaiknya mendagri panggil Mang Oded dan Ridwan Kamil bagaimana harus diputuskan, untuk make sure ini tidak ada masalah. Kalau alasan subjektif karena kenyamanan atau alasan tertentu ya abaikan. Kalau alasannya dengan objektif lebih bagus kinerjanya ya bisa dipertimbangkan," dia menjelaskan.

    Menurut Asep, persoalan ini diduga karena kurangnya komunikasi antara Ridwan Kamil dan Oded. Namun, dugaannya tersebut juga bisa mentah lantaran keinginan mengganti rekomendasi sekda definitif justru muncul belakangan, manakala sudah ada surat dari Kemendagri yang merestui agar Benny segera dilantik.

    TAG :


    Berita TERKAIT