• Headline

    Rahmat Keberatan Dianggap Memblokade Rumah Eko

    Oleh : Asep Pupu Saeful Bahri12 September 2018 14:52
    fotografer: Inilah/Asep Pupu SB
    INILAH, Bandung - Pemilik rumah di sebelah barat rumah yang terkurung, Rahmat keberatan disebut memblokade akses jalan menuju rumah Eko Purnomo. Menurutnya sejak awal sampai sekarang, komunikasi bersama Eko berjalan cukup baik.

    Sama halnya dengan Eko, dari denah yang dipegang Rahmat juga menunjukkan di bagian belakang rumahnya terdapat bagian yang diarsir berfungsi menjadi akses jalan masuk berupa gang. Lahan tersebut kini sudah menjadi bangunan dan ditempati oleh Rohanda.

    "Kita bicara bukti bahwa rumah Eko itu ada gang, dan Eko itu mengklaim yang gang itu. Nah yang gang itu sudah dibangun, tanah kami jauh. Di berita bahwa kami memblokade padahal gangnya ada, bukan yang saya," kata Rahmat seusai musyawarah di Kantor Kecamatan Ujung Berung, Rabu (12/9).

    Rahmat menyesalkan dengan penilaian sebagian besar orang, termasuk dari warganet ketika rumah Eko di RT 05 RW 06 Kelurahan Pasir Jati, Kecamatan Ujung Berung ini viral di jejaring sosial dan menuding bahwa dirinya lah yang menutup akses menuju rumah Eko.

    "Saya keberatan kalau saya memblokade rumah Eko, karena kami komunikasi terus, seolah-olah saya menutup jalan dan tanah kami tidak ada akses jalan ke rumah Eko," cetusnya.

    Jauh sebelum dilakukan pembangunan rumah, sejak kali pertama Rahmat membeli tanah tersebut dari pemiliknya yang bernama Marolok sudah dipertanyakan perihal keberadaan rumah Eko. Sampai akhirnya ada garansi dari Marolok yang kemudian meyakinkan Rahmat untuk membeli lahan tersebut.

    "Kami tanya ke Pak Marolok, gimana ini di belakang tanah kami ada rumah dan ini mau kemana jalannya, Pak marolok nawarin ke Pak Purwanto dan katanya tidak mau beli karena ada jalan ke belakang," ujarnya.

    Setelah membeli tanah itu, Rahmat juga secara intens menjalin komunikasi bersama Eko dengan membuka opsi agar rumah Eko sekalian dibeli saja. Namun sayang negosiasi harga tidak menemui kesepakatan dari kedua belah pihak.

    Opsi berlanjut dengan penawaran Rahmat menjual sebagian tanahnya untuk dijadikan akses jalan menuju rumah Eko, namun lagi-lagi belum kunjung sepakat. Sampai akhirnya lahan miliknya ini sempat menjadi tempat pembuangan sampah dan diprotes warga sekitar karena menimbulkan bau tidak sedap.

    "Waktu 2009 itu mau dijual Rp80 juta dan saya tawar 60 juta tidak diberikan, dan setelah kami fondasi ini Eko komunikasi udah ada satu tumbak, lebar 1 meter udah panjang itu 14 meter, tapi tidak sepakat dan asumsi kami Eko akan lewat tanah Pak Yana karena lebih pendek," terangnya.

    Sampai pada saat membangun rumah, Rahmat pun sengaja membuatkan pintu di bagian belakang rumahnya yang menghadap langsung ke rumah Eko. Maksud pembuatan pintu tersebut hanya diperuntukan ketika dalam keadaan darurat saja.

    Sementara perihal alternatif yang ditawarkan pada saat musyawarah, yakni membeli rumah Eko atau menjual sebagian tanahnya untuk jalan, Rahmat belum bisa memberikan keputusan.

    "Karena kami hanya kemanusiaan saja apabila terjadi sesuatu di rumah Eko mau ginana. Waktu itu juga Eko mau masuk ke dalam ambil barang silakan. Tapi itu bukan untuk dipergunakan terus sama Eko," tandasnya. [gin]

    TAG :


    Berita TERKAIT