• Headline

    Selain Rumah Eko, Bangunan di Sekelilingnya Belum Punya IMB

    Oleh : Asep Pupu Saeful Bahri12 September 2018 13:54
    fotografer: Inilah/Asep Pupu SB
    INILAH, Bandung - Dinas Tata Ruang (Distaru) Kota Bandung mengungkapkan bangunan milik Eko Purnomo di RT 05 RW 06 Kelurahan Pasir Jati, Kecamatan Ujungberung belum memiliki surat Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Selain rumah Eko, rumah di sekelilingnya yang merupakan milik Rahmat, Yana dan Rohanda pun tidak mengantongi IMB.

    "Itikad Eko belum sampai ke sana untuk urusan IMB, bangunan di sekeliling belum ada yang urus IMB," kata Enay Darso, Koordinator Wilayah Ujungberung Distaru Kota Bandung, Rabu (12/9/2018).

    Enay menegaskan, masalah Eko sudah jelas tertera dalam Kitab Undang-Undang Hukum (KUH) Perdata Pasal 667.

    Pasal itu menyebutkan, pemilik sebidang tanah atau pekarangan yang demikian terjepit letaknya antara tanah orang lain, sehingga ia tak mempunyai pintu keluar ke jalan atau parit umum, berhak menuntut kepada pemilik-pemilik pekarangan tetangganya supaya memberikan jalan kepadanya melalui pekarangan pemilik tetangga itu, dengan mengganti ganti rugi yang seimbang.

    Enay menerangkan, upaya negosiasi untuk pengadaan jalan sempat dibahas Eko bersama tetangganya, termasuk dari penjual yang mengklaim sudah menawarkan tanah untuk jalan ketika rumah Eko masih ditempati oleh orangtuanya.

    Hanya saja, upaya tersebut tidak menemui kesepakatan harga untuk ganti rugi lahan yang akan dijadikan akses jalan masuk ke rumah milik Eko.

    "Kalau ada IMB permasalahan ini tidak akan terjadi. Permasalahannya terutama di lapangan kisruh masalah yang jual kavling tersebut terjadi miss komunikasi. Pembeli kavling dengan yang membuka kavling tersebut ahirnya terjadi begini," ujarnya.

    Untuk mengurusi IMB ini, Enay secara singkat menerangkan sejumlah prosedur harus ditempuh bagi oleh pemohon. Salah satu prosedurnya mengharuskan pemohon IMB untuk berkomunikasi dengan tetangga yang berbatasan langsung dengan rumahnya di segala sisi.

    "Pertama keterangan untuk tetangga, itu langkah awal terus diketahui RT dan RW, baru legalitas sertifikat, KTP, PBB, dibawa ke Distaru dan baru diukur dan diploting keluar KRK (Keterangan Rencana Kota) dan baru keluar gambar, dan dihitung luas berapa pagar berapa jalan masuknya kemana sebelum keluar IMB," dia menuturkan.

    Perihal denah dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang ditunjukan Eko, diungkapkan Enay, denah dari distaru bisa jadi mengeluarkan hasil serupa. Termasuk lahan yang diarsir, dimana saat ini sudah menjadi rumah milik Rohanda.

    "Dalam aturan yg sudah dibuat BPN itu ada tanah yang diarsir, memang itu dalam site plan ini seharusnya memang untuk fasum untuk gang. Kejelasan ini kalau toh dari pihak BPN dan Eko melaporkan untuk menguruskan izin akan sama keluar apa yang dikeluarkan BPN, tidak akan jauh. Karena persamaan ini sama persis dengan hasil ukur Distaru," pungkasnya. [gin]


    TAG :


    Berita TERKAIT