Massa Aksi Bela Tauhid Padati Gedung Sate

Massa Aksi Bela Tauhid Padati Gedung Sate

Jumat, 26 Oktober 2018 | 16:51 WIB - Oleh: Rianto Nurdiansyah
INILAH, Bandung-Ribuan warga dari berbagai elemen merespon insiden pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid di Garut dengan menggelar unjuk rasa bertajuk Aksi Bela Tauhid di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat (26/10/2018).

Sambil mengibarkan bendera kalimat tauhid dan bendera merah putih, ribuan massa memenuhi lokasi sejak siang hari.

Peserta aksi meminta pelaku pembakaran bendera diproses sesuai hukum yang berlaku. Selain diisi orasi, aksi juga diwarnai dengan atraksi pencak silat.

Salah satu orator, KH. Athian Ali mengatakan pihaknya khawatir terjadi perpecahan umat atas adanya insiden ini.

Menurut dia, tindakan para pelaku pembakaran sudah terlalu jauh dan menjurus arogan, lantaran mengambil alih kewenangan aparat.

"Saya siap membela negeri ini sampai darah penghabisan. Jangan ragukan komitmen kami. Beberapa oknum yang melakukan (pembakaran) sangat melukai umat Islam," ujar Athian dalam orasi.

Dia sampaikan, membakar kalimat tauhid sama artinya dengan membakar Islam. Siapa pun yang beragama di muka bumi tak akan rela jika kesucian agamanya dinodai orang lain. "Kalau sampai tak marah, maka tidak punya agama," lanjutnya.

Dia tambahkan, sangat prihatin pada kondisi negeri ini yang dikatakan memiliki umat muslim terbanyak, namun masih ada insiden pembakaran kalimat tauhid. Pihaknya menegaskan, kalimat tauhid sakral bagi umat islam, dan bukan milik ormas tertentu.

"Kita tunjukkan kita mencintai kedamaian negeri ini. Biarkan amarah tetap berkobar karena bukti keimanan pada allah. Tapi jangan biarkan amarah merusak kondusivitas. Kita wajib menjaga kondusivitas. Minta selesaikan masalah hukum bagi yang suka membuat kegaduhan dan amarah umat islam," paparnya.

Sementara itu, Koordinator lapangan aksi, Asep Ruswan Efendi mengatakan aksi ini merupakan sikap berbagai ormas yang mengecam keras tindakan pembakaran bendera bertuliskan kalimat tauhid oleh oknum banser.

Dia katakan, pihaknya mendukung penuh pernyataan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang meminta pelaku pembakaran meminta maaf kepada seluruh umat muslim.

Selain itu, menuntut pimpinan pusat Ansor dan Banser untuk membina anggotanya agar lebih baik.

"Para pengurus harus bisa mengarahkan, mengendalikan seluruh anggotanya agar tidak mengulangi perbuatan itu," ujar Asep.

Lebih lanjut, dia katakan, massa aksi meminta pemerintah untuk tegas melindungi simbol umat islam. Sekaligus memberikan jaminan bahwa bendera tauhid tidak disangkutpautkan dengan gerakan HTI

"Bendera tauhid bukan milik HTI atau organisasi. Bendera bertuliskan kalimat tauhid itu milik semua muslim," tegasnya.

Rianto Nurdiansyah / Red

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Jumat, 16 November 2018 | 14:57 WIB

    Hati-hati Parkir di Tempat Ini, Pentilnya Dicabut!

  • Kamis, 15 November 2018 | 16:30 WIB

    Dua Titik Banjir Baru Muncul, di Sudirman Misterius

  • Kamis, 15 November 2018 | 15:22 WIB

    Netralitas ASN Dominasi Pelanggaran Pemilu

  • Kamis, 15 November 2018 | 13:09 WIB

    Setwan DPRD Denpasar Pertimbangkan Program Setwan Cimahi