Pengamat: Bagasi Berbayar Dampak Ekonominya Panjang

Pengamat: Bagasi Berbayar Dampak Ekonominya Panjang

Sabtu, 9 Februari 2019 | 16:10 WIB - Oleh: Inilah koran
ilustrasi. net

INILAH, Bandug-Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira menilai, keputusan maskapai penerbangan menerapkan bagasi berbayar berdampak ekonomi yang panjang.

"Implikasi bagasi berbayar ini dampak ekonominya sangat panjang," kata Bhima dalam sebuah diskusi di Kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (9/2/2019).

Ada beberapa alasan yang mendasari Bhima kenapa kebijakan ini sangat berdampak besar bagi ekonomi nasional, semisal kebijakan bagasi berbayar berpotensi menimbulkan kerugian ekonomi baik secara makro ataupun mikro.

"Jasa transportasi darat misalnya, dari yang atau ke bandara menjadi menurun, gara-gara penumpang berkurang, okupansi hotel juga, data bulan Desember okupansi hotel hanya 44% di daerah ini berdampak pada hotel bintang 1," katanya.

Tak hanya itu, sektor UMKM kata Bhima juga berdampak, lantaran kunjungan wisatawan yang biasa berpergian dengan pesawat menurun drastis. "UMKM juga berdampak, ini sektor pariwisata oleh-oleh karena tidak ada wisatawan lokal," katanya.

Sementara sektor makro, yang paling berasa dari dampak ini adalah inflasi, Bhima menambahkan salah satu pemicu terkereknya laju inflasi adalah harga tarif angkutan udara atau tiket pesawat yang naik, tahun 2017 lalu kata Bhima indikator ini berada di urutan 16 yang mempengaruhi inflasi, sementara tahun 2018 kemarin indikator ini berada di peringkat 6.

"Dari data BPS tahun 2017 tarif angkutan udara itu menyumbang nomer 16, nah sekarang ditahun 2018 kemarin itu loncat jadi nomer 6, jadi bisa dibayangkan dari peringkat 16 ke 6 loncat 10 peringkat, jadi bisa dibayangkan kedepannya tren tarif angkutan bakal terus naik," katanya.

Bhima bilang naiknya harga tarif tiket pesawat juga tak terlepas dari kenaikan harga avtur yang juga meningkat, meskipun saat ini harga minyak mentah sudah mulai menurun dibandingkan tahun lalu. "Ini harga avtur yang begitu mahal, Pertamina tidak memiliki infrastruktur, avtur ke sejumlah daerah menjadi sangat mahal," katanya. 

Inilah koran / jek

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Minggu, 17 Februari 2019 | 20:00 WIB

    Perbarindo Gagas Transformasi Digital BPR

  • Minggu, 17 Februari 2019 | 15:55 WIB

    AFPI Dukung Langkah OJK Berantas Fintech Ilegal

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 15:00 WIB

    Di Bandung, BTN Ajak 25 Developer Tawarkan KPR Gaes!

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 14:30 WIB

    KPR Gaes! Produk BTN Gaet Generasi Milenial

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 14:15 WIB

    XL Axiata Operator Kedua Terbesar Indonesia

  • Kamis, 14 Februari 2019 | 15:00 WIB

    Samsung Penuhi Kebutuhan Monitor Layar Lebar

  • Kamis, 14 Februari 2019 | 06:00 WIB

    XL Axiata Luncurkan Kartu Perdana XL Go Izi

  • Rabu, 13 Februari 2019 | 22:30 WIB

    JNE Bidik 20% Titik Layanan Baru

  • Rabu, 13 Februari 2019 | 20:30 WIB

    Iwapi Didorong Bangkitkan Ekonomi Sektor Pertanian