Petugas Rumah Sakit Hewan Serbu Gedung Sate, Tangkap Kucing Liar

Petugas Rumah Sakit Hewan Serbu Gedung Sate, Tangkap Kucing Liar

Jumat, 8 Februari 2019 | 17:26 WIB - Oleh: Rianto Nurdiansyah
. istimewa
INILAH, Bandung-Gestur badan Kitty tiba-tiba mematung dan pandangannya tajam, terbelalak ke arah seorang pria yang membawa jaring juga menggunakan sarung tangan tebal di kawasan Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (8/2/2019). Kian didekati, Kitty semakin berlari pontang-panting menjauh dari keramaian. Dia ketakutan.

Kitty adalah salah satu kucing kampung yang kerap menanti makanan sisa di kawasan kantor Gubernur Jawa Barat. Kucing berbulu abu tersebut merupakan salah satu binatang yang diamankan oleh petugas dari Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat.

Kepala Rumah Sakit Hewan Provinsi Jawa Barat, Indriantari mengatakan, penangkapan kucing liar tersebut dalam rangka pengendalian penyakit hewan menular strategis dan zoonosis. 

"Jadi kita pengendaliannya itu salah satunya ke hewan penular rabies, hewan penular rabies itu ada anjing, kucing, kelelawar dan musang. Dan kebetulan kita dapat laporan bahwa di wilayah Gedung Sate ini banyak sekali kucing liar," ujar Indiartari.

Selain itu, kata dia, kegiatan ini pun sebagai upaya mengendalikan populasi kucing liar. Di mana, nantinya setiap kucing yang tertangkap akan di bawa ke Rumah Sakit Hewan Provinsi Jabar untuk disterilisasi.

"Ketika sudah steril yang sakit kita obati. Kemudian kita vaksin rabies, kemudian kita lepaskan lagi. Kalau ada yang mengadopsi lebih baik," katanya.

Sedikitnya ada lima kucing liar yang dapat diamankan, sementara yang lainnya lari dari tangkapan. Kesulitannya, kata Indriantari, karena kucing-kucing tersebut tidak terbiasa dekat dengan manusia. Dengan begitu, ketika didekati segara lari menjauh.

 "Tadi sempat agak mudah, pagi pagi kita datang ke sini mungkin agak lapar, kita pancing dengan makanan, tapi begitu ketangkap kan ada teriakan itu membuat kucing yang lainnya ketakutan," katanya.

Disampaikan, pihaknya sudah berkoodinasi dengan Biro Umum Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk berkejasama menangkap kucing-kucing liar tersebut. Mengingat, kucing di kawasan Gedung Sate ini memiliki waktu tertentu untuk lebih menampakan diri. Di antaranya, ketika sudah tidak ada aktivitas di Gedung Sate atau menjelang malam hari.

"Jadi kita minta kerjasama dari sini mungkin bisa disiapkan satu ruangan, nanti diisi makanan taruh di situ. Jadi dia makan di situ di tutup aja. Kemudian kontak ke kita Insya Allah kita datang," katanya.

Indriantari mengakatan, Jawa Barat belum bebas rabies mengingat masih ada kasus yang terjadi pada satu tahun terakhir. Meski begitu, angkanya tidak tinggi sekalipun tidak memaparkan secara datail angka kasus rabies yang terjadi.

"Setahun itu harus dinyatakan bebas tidak ada kasus sama sekali. Baik di hewan baik di manusia, baru kita bisa dinyatakan bebas rabies," katanya.

Karena itu, dia mengimbau masyarakat yang memelihara binatang khususnya kucing dan anjing untuk mementingkan vaksinasi rabies. Terlebih, penyakit tersebut bisa menular kepada pemiliknya. Meski begitu, dia menilai, masyarakat yang memelihara bintang tersebut, dewasa ini cenderung lebih peduli pada langkah vaksinasi.

"Tapi kita minta masyarakat lebih aware, vaksinasi rabies ini ternyata bukan hanya buat saya saja, tapi buat lingkungan juga. Jadi kalau pemilik anjing kucing, kera dan sebagainya wajib vaksinasi rabies. Supaya menghindarkan lingkungannya tadi," paparnya.

Vaksinasi rabies untuk hewan peliharaan, kata dia, dapat dilakukan di rumah sakit hewan. Sedangkan di Kabupaten/kota bisa dilakukan di dinas yang menangani penyakit menular strategis dan zoonosis.

"Ada puskeswan, kemudian praktek-praktek dokter hewan, kemudian klinik hewan banyak. Rumah sakit hewan banyak. Di dinas itu free," ucapnya.

Lantas bagaimana ciri-ciri hewan yang terinfeksi rabies? Indriantari menjeleskan, ada perilaku yang berbeda dari hewan bilamana sudah terinfeksi. Misalnya saja, hewan tersebut tiba-tiba menjadi pendiam atau sebaliknya. Sebab,  rabies ini menyerang kontrol otak, sehingga tidak dapat mengendalikannya. 

"Kalau yang sebaliknya lebih parah lagi, dia akan menggigit apapun semua yang bergerak. Enggak peduli itu orang, hewan lain itu apapun yang bergerak akan dia kejar dan dia gigit. Nah yang kena gigitan akan sama seperti yang menggigit. Dan itu air liur berlebihan, kemudian dia takut sinar, dia takut air dan tidak bisa sembuh," paparnya. 

Rianto Nurdiansyah / jek

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Senin, 18 Februari 2019 | 16:50 WIB

    April Nanti, Jabar Kedatangan Investor India

  • Senin, 18 Februari 2019 | 16:45 WIB

    Anggaran Citarum Harum Cair Paling Telat Maret

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 13:10 WIB

    Lulusan SMK Penyumbang Tertinggi Pengangguran di Jabar

  • Kamis, 14 Februari 2019 | 16:35 WIB

    Duh, Dana Citarum Rp600 Miliar Belum Cair