Tren Industri Biodiesel Meningkat

Tren Industri Biodiesel Meningkat

Kamis, 7 Februari 2019 | 22:00 WIB
ilustrasi. ANTARA FOTO
INILAH, Bandung - Industri biodiesel nasional kini bersiap untuk menambah investasi. Hal itu seiring dengan peningkatan permintaan pasar domestik terkait perluasan penggunaan biodiesel 20% atau B20.

Tak hanya itu, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) menyebutkan tren penggunaan biodiesel di sejumlah negara  khususnya di ASEAN pun relatif melonjak.

“Kami diajak Malaysia untuk mendukung mereka mengimplementasikan B20 pada 2020,” kata Ketua Harian Aprobi Paulus Tjakrawan seperti dikutip Antara, Kamis (7/2).

Menurutnya, permintaan kerja sama itu pun diajukan Thailand. Negara jirab itu juga akan menerapkan biodiesel 5% atau B5 yang bisa menjadi peluang pasar baru bagi industri biodiesel Indonesia.

Dia menuturkan, ssekarang ada wacana mempercepat penggunaan B30 tahun ini atau paling lambat pada triwulan IV 2019. Kalau wacana itu direalisasikan, Paulus menegaskan beberapa industri biodiesel nasional harus meningkatkan mutu sesuai dengan standar nasional Indonesia (SNI) yang diterapkan.

“Mudah-mudahan dalam uji coba, uji jalan B30 nanti, para perusahaan tidak perlu melakukan perbaikan. Kalau harus improve'artinya harus ada investasi,” ujarnya.

Jika B30 dilaksanakan, dia mengaku akan dibutuhkan sekitar 9-10 juta kilo liter biodiesel. Sejauh ini, kapasitas terpasang industri biodiesel nasional baru mencapai 12 juta kilo liter.

“Sudah pasti, bila digabungkan dengan kebutuhan pasar ekspor nanti kapasitas pabrik kurang, “ tambahnya.

Belum lagi, ke depan akan ada peluang dari rencana penggunaan green diesel. Bila percobaannya berhasil, konsekuensinya dibutuhkan investasi untuk pabrik katalis.

Dia menegaskan, industri biodiesel nasional kini tidak terlalu ambil pusing dengan ancaman tuduhan subsidi dari Uni Eropa atas biodiesel Indonesia.

“Kalau itu benar-benar direalisasikan, (tuduhan) subsidi, maka ekspor biodiesel ke Eropa akan turun dan mungkin nol,” katanya.

Meski demikian, Paulus meyakini ada peluang pasar lain yang relatif besar seperti Cina dan India. Dia menyebutkna, bisa jadi industri biodiesel Indonesia meninggalkan pasar eropa yang potensi gangguannya relatif besar.

Pada 2018, ekspor biodiesel Indonesia melonjak 851% menjadi 1,56 juta ton. Sebelumnya, pada 2017 ekspor tersebut hanya 164 ribu ton. Sementara, akibat penggunaan wajib B20 pada 1 September hingga akhir Desember lalu permintaan biodiesel domestik naik 72%. Angka itu senilai 2,2 juta ton pada 2017 menjadi 3,8 juta ton pada 2018.

Tren peningkatan permintaan biodiesel di dunia itu pun diamini Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono.

“Sejak 2010 sampai 2017 permintaan minyak sawit mentah (CPO) untuk nonpangan terus mendominasi mencapai 43%. Sebagian besar permintaan itu digunakan untuk kebutuhan energi, termasuk biodiesel,” ucap Joko. 

Sementara itu, seiring perkembangan zaman kini PT Pindad mempersiapkan setiap produk kendaraan taktisnya menggunanan bahan bakar energi terbarukan. Direktur Utama Pindad Abraham Mose mengatakan, produk kendaraan Komodo diproyeksikan menggunakan B20.

"Untuk penggunaan konsumsi B20, kita siap. Yang disetujui untuk itu Komodo," kata Abraham Mose, beberapa waktu lalu.

Bahkan, dia menyebutkan pihaknya mengembangkan dan mengarah tujuan yang lebih baik lagi. Yakni, bahan bakar B50 sebagai sumber energi.

Dia pun menyebutkan, penggunaan B20 ini akan diterapkan pada produk yang dipakai TNI. Selain itu, penggunaan mesin ramah lingkungan ini pun diaplikasikan pada produk kendaraan ekspor.

Antara / dnr

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Kamis, 21 Februari 2019 | 21:00 WIB

    Daerah Keluhkan Kenaikan Tiket Pesawat

  • Kamis, 21 Februari 2019 | 19:00 WIB

    BNI Syariah Bidik Pembiayaan Rumah Tumbuh 17 Persen

  • Kamis, 21 Februari 2019 | 14:33 WIB

    All New Livina dan Serena Resmi Mengaspal di Bandung

  • Selasa, 19 Februari 2019 | 22:00 WIB

    OJK: Konsolidasi BPR Perkuat Modal