Mantul … Mahasiswa Unila Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

Mantul … Mahasiswa Unila Ubah Sampah Plastik Jadi BBM

Kamis, 7 Februari 2019 | 13:45 WIB
Ilustrasi. Net
INILAH, Bandarlampung - Banyak keluhan warga masyarakat dalam mengolah sampah plastik menginspirasi mahasiswa Universitas Lampung (Unila) mengembangkan inovasi teknologi untuk mengatasinya.

Cara mengatasi persoalan tersebut berupa tabung pengurai dengan metode pirolisis memanfaatkan pembakaran anaerob untuk menghasilkan minyak murni yang dapat dimanfaatkan kembali.

Humas Unila, di Kampus Gedongmeneng, Bandarlampung, Kamis (7/2/2019), menyampaikan inovasi teknologi itu dikembangkan dalam program unggulan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unila Periode I Januari 2019 yang ditempatkan di Kabupaten Lampung Barat, tepatnya di Kecamatan Sukau.

Menurut M Irfan (FMIPA Kimia 2016), anaerob adalah pembuatan bahan bakar atau minyak solar atau premium dari bahan-bahan sampah plastik yang mendapatkan pembakaran sempurna dengan tekanan panas maksimal 300 sampai 600 derajat Celsius.

Irfan menerangkan mekanisme kerja alat anaerob ini, plastik yang mendapatkan panas maksimal tadi berada di dalam tabung aluminium atau besi yang kemudian disambungkan dengan pipa berbahan sama dan mendapatkan regulasi dari partikel air atau es.

"Panas yang maksimal akan menghasilkan pembakaran yang cepat dan hasil minyak yang banyak sesuai input sampah yang diurai, walaupun 100 derajat Celsius, alat ini juga sudah bisa menghasilkan minyak siap pakai," ujar Irfan pula.

Ia menjelaskan pula, bahan yang terurai dan telah teregulasi tadi bekerja secara otomatis dan menguap di tabung kedua dan akhirnya menjadi minyak murni. Minyak yang dihasilkan pertama kali sejenis dengan solar, dan bila mendapatkan perlakuan pemurnian lanjutan, minyak ini dapat digolongkan menjadi premium atau pun pertalite yang siap digunakan.

Rizqy Putra (FMIPA Kimia 2015) rekan satu tim Irfan menambahkan, bahan baku utama yakni hanya sampah plastik yang sulit terurai tanah.

Bahan tabung yang digunakan bisa bervolume besar atau sedang, sesuai jumlah sampah plastik dan panaskan yang diperoleh. "Biasanya dipanaskan 30 menit sesuai dengan banyak bahan dan panas yang diperoleh saat dijadikan uap," katanya lagi.

Program unggulan yang diluncurkan mahasiswa KKN Unila di Kecamatan Sukau, Lampung Barat ini di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr Saiful Bahri MA dari FMIPA Kimia dan Dr Yul Martin ST MT dari Teknik Elektro Unila.

Antara / sur

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Rabu, 20 Februari 2019 | 22:30 WIB

    Maudy Ayunda Sampaikan Pemikirannya di Sosmed

  • Selasa, 19 Februari 2019 | 19:30 WIB

    MRT Segera Beroperasi, Ini Komentar Para Artis

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 19:30 WIB

    Ave Maryam, Ekspose Kehidupan Biarawati dalam Film

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 19:00 WIB

    Google dan Facebook Dikritik di AS, Kenapa?