Pakar Radiologi Bisa Deteksi dengan Tepat Kasus KDRT

Pakar Radiologi Bisa Deteksi dengan Tepat Kasus KDRT

Kamis, 7 Februari 2019 | 13:21 WIB
Ilustrasi. Net
INILAH, New York - Pakar radiologi, yang sedikit berinteraksi dengan pasien, dapat memainkan peran kunci dalam mengidentifikasi para korban pelecehan. Bagaimana? 

Caranya, dengan melihat pola luka yang mengarah pada kekerasan dalam rumah tangga, kata para peneliti pada Selasa (4/2/2019).

Korban-korban pelecehan, sebagian besar sering wanita, memiliki lebih banyak patah tulang lengan, muka dan tengkorak daripada pasien-pasien lain, dikombinasikan dengan tingginya tingkat asma, nyeri kronis dan usaha-usaha bunuh diri, demikian tim di Rumah Sakit Brigham dan Wanita di Boston melaporkan.

Tanda-tanda pelecehan dapat dideteksi oleh pakar radiologi, yang memiliki kekhususan dalam menafsirkan gambar-gambar seperti sinar-X, mengingat bahwa para korban tersebut menjalani empat kali lebih banyak pemeriksaan pencitraan yang terkait darurat daripada pasien-pasien lain, kata para periset itu.

Pelecehan tersebut dapat berupa fisik, seksual dan psikologi, kata mereka. Dr. Elizabeth George, kepala di Departemen Radiologi di RS Brigham dan Wanita dan ketua periset laporan tersebut mengatakan informasi yang tersedia untuk para pakar radiologi banyak.

"Mungkin sudah ada indikasi pada pencitraan sebelumnya, dan jika Anda lihat suatu pola, hal itu yang dapat memberi tahu Anda tentang hal lain yang terjadi dalam kasus ini, seperti kekerasan." Organisasi Kesehatan Dunia melaporkan bahwa satu di antara tiga wanita mengalami kekerasan seksual dan fisik dalam hidupnya.

Antara / sur

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Rabu, 20 Februari 2019 | 22:30 WIB

    Maudy Ayunda Sampaikan Pemikirannya di Sosmed

  • Selasa, 19 Februari 2019 | 19:30 WIB

    MRT Segera Beroperasi, Ini Komentar Para Artis

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 19:30 WIB

    Ave Maryam, Ekspose Kehidupan Biarawati dalam Film

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 19:00 WIB

    Google dan Facebook Dikritik di AS, Kenapa?