Ekonomi Jabar 2018 Tumbuh 5,64%

Ekonomi Jabar 2018 Tumbuh 5,64%

Rabu, 6 Februari 2019 | 21:30 WIB
ilustrasi. Foto: Syamsuddin Nasoetion
INILAH, Bandung - Badan Pusat Statistik (BPS) Jabar menghitung, sepanjang 2018 kemarin perekonomian Jabar tumbuh 5,64%. Realisasi tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 5,35%.

Kepala BPS Jabar Dody Herlando mengatakan, perekonomian Jabar itu diukur berdasarkan produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp1.962,23 triliun dan produk domestik regional bruto (PDRB) per kapita mencapai Rp40,31 juta. 

“Ekonomi Jabar 2018 tumbuh 5,64%. Angka ini meningkat dibandingkan 2017 sebesar 5,35%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha real estate sebesar 9,64%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai komponen pengeluaran konsumsi LNPRT (lembaga non-profit rumah tangga) sebesar 16,38%,”  kata Dody, Rabu (6/2).

Menurutnya, pertumbuhan tersebut didukung hampir semua lapangan usaha. Terkecuali sektor pertambangan dan penggalian yang mengalami penurunan sebesar minus 4,11%. 

Pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha real estate sebesar 9,64%. Disusul lapangan usaha informasi dan komunikasi sebesar 9,14% dan jasa perusahaan sebesar 8,64%. 

“Bila dilihat dari penciptaan sumber pertumbuhan ekonomi tahun 2018, Jabar masih bertumpu pada industri pengolahan. Dimana industri ini memiliki sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 2,80% diikuti perdagangan besar-eceran reparasi mobil-sepeda motor sebesar 0,65%, dan konstruksi sebesar 0,62%,” tuturnya.

Terkait struktur perekonomian Jabar, berdasarkan lapangan usaha pada 2018 itu didominasi tiga lapangan usaha utama. Yakni, industri pengolahan sebesar 42,16%, perdagangan besar-eceran reparasi mobil-sepeda motor sebesar 14,87%, serta pertanian, kehutanan, dan perikanan sebesar 8,67%.

Lebih detil, ekonomi Jabar pada triwulan IV 2018 bila dibandingkan periode yang sama sebelumnya tumbuh sebesar 5,50% (yoy). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi dicapai lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang tumbuh sebesar 13,49%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada komponen pengeluaran konsumsi LNPRT yang tumbuh 11,43%. 

Dibandingkan triwulan sebelumnya, ekonomi Jabar triwulan IV 2018 itu mengalami kontraksi sebesar minus 0,47% (qtq). Dari sisi produksi, hal ini disebabkan efek musiman pada lapangan usaha pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mengalami penurunan sebesar minus 26,99%. Sementara, dari sisi pengeluaran kontraksi terjadi pada komponen ekspor barang dan jasa sebesar minus 1,39% dan komponen perubahan inventori sebesar minus 1,20%. 

Realisasi pertumbuhan ekonomi Jabar tersebut sesuai prediksi Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jabar. Sebelumnya, lembaga bank sentral tersebut merilis secara keseluruhan laju pertumbuhan ekonomi (LPE) Jabar pada 2018 diperkirakan sebesar 5,5-5,9% (yoy). Angka tersebut meningkat dari tahun sebelumnya dan masih berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Kepala KPwBI Jabar Doni P Joewono mengatakan, secara nasional pertumbuhan ekonomi 2018 diperkirakan mencapai sekitar 5,1%. Ini ditopang kuatnya permintaan domestik. Pertumbuhan ekonomi Jabar 2018 pada kisaran 5,5-5,9% itu ditopang terutama peningkatan investasi, konsumsi, dan ekspor antardaerah serta berlangsungnya sejumlah even seperti Pilkada dan Asian Games.

"Berdasarkan hal itu, nanti pertumbuhan ekonomi Jabar 2019 mendatang akan dipredikisi melandai sebesar 5,3-5,7%. Tapi, tetap di atas rata-rata pertumbuhan nasional yang diperkirakan berkisar 5-5,4%," kata Doni saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2018.

Menurutnya, tidak melonjaknya LPE itu dikarenakan sejumlah faktor utama. Di antaranya, di negara-negara tujuan ekspor Jabar indeksnya menurun. Sejauh ini, pertumbuhan itu ditopang ekspor produk elektronik, tekstil dan produk tekstil (TPT), serta otomotif. Di negara tujuan ekspor itu, indeks World Trade Volumen (WTV) menurun dari 4,2% menjadi 4%. Begitu pula dengan indeks World Economic Outlook (WEO) yang juga menurun.

Dengan turunnya WTE dan WEO itu, Doni memastikan nilai ekspor Jabar pun ikut menurun. Meski demikian, dia menjelaskan ekonomi Jabar tetap tumbuh yang ditopang industri pengolahan. Selain itu, pendorong lainnya yakni konstruksi di daerah penyangga ibu kota ini relatif besar. Plus, perdagangan Jabar yang relatif bagus.

Sebelumnya, dia optimistis sepanjang 2018 ini pertumbuhan ekonomi Jabar akan di atas rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi Jabar hingga triwulan III 2018 ini tercatat sebesar 5,58%. Optimisme tersebut berdasarkan catatan historis yang ada. Meski pertumbuhan ekonomi Jabar pada triwulan III itu tercatat melambat dibandingkan triwulan II 2018 sebesar 5,65% (yoy), namun realisasi tersebut masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata LPE Jabar pada kurun waktu 2014-2017. Dalam rentang tiga tahun lalu, LPE tercatat sebesar 5,32% (yoy). 

Dia menjelaskan, sejumlah faktor perlambatan terhadap pertumbuhan itu akan tertahap pada triwulan IV 2018 ini. Perlambatan tertahan dengan meningkatnya konsumsi pemerintah seiring dengan persiapan Pemilihan Umum 2019 dan peningkatan ekspor khususnya ke Amerika Serikat. 

Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2018 diperkirakan akan meningkat didorong khususnya dari sisi domestik. Konsumsi rumah tangga, konsumsi lembaga nonprofit rumah tangga (LNPRT), dan konsumsi pemerintah diperkirakan melonjak seiring meningkatnya permintaan masyarakat menjelang liburan akhir tahun. 

Selain itu, persiapan menjelang Pemilihan Umum 2019 pun turut mendorong konsumsi baik swasta maupun pemerintah. Dari sisi lapangan usaha, kinerja industri pengolahan diperkirakan juga terdorong oleh permintaan domestik yang meningkat. Di sisi lain, masih ada potensi ekspor khususnya ke Amerika Serikat seiring perbaikan ekonomi AS yang terus berlanjut. Kinerja perdagangan juga diperkirakan akan meningkat seiring dengan permintaan masyarakat menjelang akhir tahun yang meningkat.

Doni Ramdhani / dnr

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Kamis, 21 Februari 2019 | 21:00 WIB

    Daerah Keluhkan Kenaikan Tiket Pesawat

  • Kamis, 21 Februari 2019 | 19:00 WIB

    BNI Syariah Bidik Pembiayaan Rumah Tumbuh 17 Persen

  • Kamis, 21 Februari 2019 | 14:33 WIB

    All New Livina dan Serena Resmi Mengaspal di Bandung

  • Selasa, 19 Februari 2019 | 22:00 WIB

    OJK: Konsolidasi BPR Perkuat Modal