Agar Agrobisnis Sukses, Hindari Sesat Bisnis Pertanian Ini

Agar Agrobisnis Sukses, Hindari Sesat Bisnis Pertanian Ini

Sabtu, 2 Februari 2019 | 18:00 WIB
Ilustrasi. Istimewa

INILAH, Bandung - Pertanian atau agrobisnis seringkali dianggap primadona oleh banyak orang karena laba menggiurkan. Sayang, banyak yang melakukan kebiasaan sesat di bisnis pertanian ini. Apa saja?

Dikutip dari laman Odesa.id, menurut Kepala Pendampingan Ekonomi Pertanian Yayasan Odesa Indonesia, Basuki Suhardiman, ada beberapa kebiasaan sesat bisnis pertanian, antara lain:

1. Banyak orang terjun ke agrobisnis secara asal-asalan dan tak jarang babak belur karena apa yang diprediksi meleset dan akhirnya hancur. Hal ini disebabkan orang tersebut melakukan tindakan tanpa perhitungan yang matang, alias ngawur.

“Orang bisa menghitung laba di atas kertas tapi tidak bisa membuktikan laba dalam praktik. Orang mudah tergiur menghitung agrobisnis hanya pada sisi keuntungan pelipatgandaan nilai lebih urusan uang, tetapi jarang berpikir efisiensi.

2. Orang menganggap tenaga kerja pertanian selesai hanya dengan membayar upah rendah, sementara skill pelaku tani diabaikan.,” kata Basuki Suhardiman di hadapan para petani binaan Yayasan Odesa Indonesia Cimenyan, Kabupaten Bandung, Sabtu (26/1/2019).

3. Menurut Peneliti Comlabs Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, pelaku usaha bisnis terkadang juga hanya mengandalkan modal finansial dan membangun infrastruktur besar, tetapi lupa pentingnya menjadikan tenaga kerja petani harus dibangun dengan keseriusan sehingga tenaga kerja pertanian memiliki komptensi yang matang.

Nah, di Yayasan Odesa Indonesia, mereka memulai tradisi baru untuk melepaskan kebiasaan sesat dalam urusan pertanian. Tenaga kerja harus terampil menguasai pembibitan, pengembangan botani, perawatan tanah, mengatasi hama secara organik dan juga pengelolaan pasca panen serta berwawasan dalam urusan konsumen.

“Dan yang harus dilanjutkan, pertanian kita tidak merusak lingkungan melainkan merawat. Pertanian kita mendayagunakan kemampuan internal dari rumah tangga setahap demi setahap meningkat,” pungkas Basuki.

Inilah koran / sur

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Kamis, 21 Februari 2019 | 22:30 WIB

    Inilah Cara Cepat dan Mudah Atasi Katarak

  • Senin, 18 Februari 2019 | 15:30 WIB

    Menuju Syar’i, Konsep Pernikahan Muslim Menjadi Tren

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 00:29 WIB

    Trauma "May" jadi Korban Perkosaan

  • Kamis, 14 Februari 2019 | 23:30 WIB

    Jejak Jenderal Soedirman di Pameran Radio Antik

  • Kamis, 14 Februari 2019 | 03:00 WIB

    Suka Cita Hamish Daud dan Raisa Sambut Sang Buah Hati

  • Selasa, 12 Februari 2019 | 18:30 WIB

    Waspadai Puncak Siklus 10 Tahun Kasus DBD