Di Kabupaten Bandung, Ibu dan Janinnya Meninggal Dunia Akibat DBD

Di Kabupaten Bandung, Ibu dan Janinnya Meninggal Dunia Akibat DBD

Kamis, 24 Januari 2019 | 14:35 WIB - Oleh: Dani Rahmat N.
. Foto: Dani Rahmat Nugraha
INILAH, Bandung – Seorang ibu muda bernama Nadia Agustina (22), warga Kampung Tipar, RT 1 RW 3, Desa Padasuka, Kecamatan Kutawaringin, Kabupaten Bandung, meninggal dunia bersama anak yang masih dikandungnya karena terkena penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), Kamis (16/1/2019) lalu. 

Nina Nuriana (48) mengatakan, anak sulungnya itu mengalami panas tinggi dan demam pada Jumat (4/1/2019). Kemudian oleh keluarga dibawa ke bidan. Namun karena panasnya tak kunjung turun, bidan memberikan rujukan agar korban dibawa ke rumah sakit. Korban menjalani pengobatan dan dirawat di salah satu rumah sakit swasta di Kota Bandung. 

"Awalnya Nadia sakit panas dan batuk, kemudian dibawa ke bidan. Bidannya kasih rujukan ke rumah sakit. Tapi justru kondisi kesehatannya semakin memburuk akhirnya meninggal dunia," kata Nina didampingi suaminya Agus Tarmizi (49) di kediamannya, Kamis (25/1/2019).

Menurut Nina, anaknya yang tengah hamil lima bulan itu, selama dua hari pertama dirawat di ruang rawat inap. Namun dua hari kemudian dipindahkan ke ruangan intensive care unit (ICU) karena kondisinya memburuk. Bahkan anaknya itu sempat tidak sadarkan diri. Karena kondisi semakin memburuk, janinnya yang berumur lima bulan dikeluarkan karena sudah meninggal dunia. Hal itu pun dilakukan agar kondisi Nadia bisa pulih. 

"Keluarga juga enggak tega, tapi  akhirnya mengizinkan pengangkatan janin dengan harapan ibunya bisa sehat," katanya. 

Dikatakan Nina, anaknya berada di rumah sakit sekitar 10 hari. Setelah dilakukan pemeriksaan oleh pihak rumah sakit, Nadia didiagnosis terkena penyakit DBD disertai penyakit tipes. Selain almarhum, dalam waktu yang hampir bersamaan, anak pertama korban bernama Raisa Naura (5) pun terkena DBD. Kemudian anak bungsu Nina yang bernama Melani (8) pun masuk rumah sakit karena penyakit yang sama. Untungnya cucu dan anak bungsunya itu telah sembuh dan dalam masa pemulihan. 

Dirinya berharap kasus DBD menjadi perhatian pemerintah daerah agar tidak ada yang meninggal lagi.

Kasi Kesejahteraan Desa Padasuka, Asep Suryana mengatakan, pihaknya menerima laporan jika terdapat beberapa warganya yang terserang penyakit DBD. Kemudian langsung berkoordinasi dengan puskesmas untuk melaporkan kejadian tersebut dan dilaporkan ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung.

"Di RW 03 banyak yang terkena DBD. Laporan lisan ke desa ada 11 orang terkena DBD sedangkan laporan resmi ke dinas kesehatan ada satu," ujarnya.

Ia mengatakan, warga yang terkena DBD cenderung beruntun. Sebagai antisipasinya, pihak desa mendorong warga untuk bersih bersih lingkungan. Pihaknya juga mendorong agar Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung melakukan fogging. Katanya, di Desa Padasuka terbilang rawan DBD. 

"Pada 2015 lalu sempat ada yang terkena DBD dua orang di RW 08,"katanya.

Saat dikonfirmasi, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Deni Zaeni membantah penyebab meninggalnya warga di RT 01 RW 03 Kampung Tipar karena penyakit DBD. Sebab yang bersangkutan saat sakit tengah mengandung.

Menurutnya, pihaknya melakukan penyelidikan epidemologi untuk memastikan apakah terdapat jentik nyamuk dan sudah keluar hasilnya. Sementara itu, dilakukan juga pengecekan audit maternal perinatal agar mengetahui ada penyakit lainnya.

"Kesimpulannya masih diduga karena DBD karena hasil lab dari rumah sakit tempat almarhum dirawat tidak ada. Yang ada hanya ada CT Scan," katanya. 

Meski begitu hasil pemeriksaan penyelidikan epidemologi menyebutkan di rumah korban positif terdapat jentik nyamuk di dispenser dan kulkas. Selain itu, di rumah beberapa warga terdapat jentik nyamuk DBD yang sama. 

"Jentik nyamuk ada di tiga rumah positif, adanya di dispenser dan kulkas. Di rumah yang meninggal ada jentiknya," ujarnya.

Menurutnya, pihaknya pada Jumat Minggu besok akan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) di wilayah Desa Padasuka. Katanya permohonan tersebut sudah diajukan oleh Dinas Kesehatan dan akan segera direalisasikan. Terkait langkah fogging pihaknya terbatas tenaga personil. Selain itu jadwal saat ini sangat padat sebab sudah dilakukan sejak Desember 2018 yang lalu.

Dani Rahmat N. / dey

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Senin, 18 Februari 2019 | 16:30 WIB

    Polisi Sosialisasi MRSF di SMAN 1 Bandung

  • Senin, 18 Februari 2019 | 16:23 WIB

    Pemkot Bandung Siap Bantu KPU Wujudkan Pemilu Berkualitas

  • Senin, 18 Februari 2019 | 13:10 WIB

    Banjir Masih Kepung Sebagian Wilayah Dayeuhkolot

  • Senin, 18 Februari 2019 | 10:00 WIB

    Diterjang Banjir, Objek Wisata Taman Bougenville Tutup

  • Minggu, 17 Februari 2019 | 16:07 WIB

    Kapolres Bandung Tegaskan Majalaya Aman