Tarif Pengiriman JNE Naik 20%

Tarif Pengiriman JNE Naik 20%

Minggu, 20 Januari 2019 | 16:00 WIB - Oleh: Doni Ramdhani
Terhitung sejak 15 Januari kemarin, ongkos kirim barang melalui JNE ditetapkan naik. ANTARAFOTO
INILAH, Bandung - Terhitung sejak 15 Januari kemarin, ongkos kirim barang melalui JNE ditetapkan naik. Rata-rata kenaikannya sebesar 20%.

Presiden Direktur JNE M Feriadi mengatakan, kenaikan itu seiring dengan adanya kenaikan tarif biaya kargo udara rata-rata sekitar 70%. Tarif ini diberlakukan pihak maskapai penerbangan.

“Penyesuaian tarif pengiriman JNE berlaku mulai 15 Januari 2019 pukul 00:01 WIB. Besaran kenaikan tarif dari Jabodetabek, tergantung pada tujuan pengiriman paket dan jenis layanan yang digunakan. Kenaikan rata-rata sebesar 20%,” kata Feriadi dalam rilis yang diterima, belum lama ini.

Menurutnya, khusus pengiriman paket antarkota dalam Jabodetabek itu tetap berlaku tarif normal. Penyesuaian tariff ini diakuinya untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan prima.

Secara umum, penyesuaian tarif ini dilakukan sekitar 200 perusahaan logistik yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Jasa Pengiriman Ekspres, Pos, dan Logistik Indonesia (Asperindo). Per Januari 2019 ini, mereka sepakat untuk melakukan langkah penyesuaian tarif pengiriman sesuai dengan arahan Asperindo melalui surat No. 122/ DPP.ASPER/XI/2018. 

“Penyesuaian tarif secara bersama-sama ini agar iklim usaha antara perusahaan jasa pengiriman ekspres, pos, dan logistik tetap kondusif serta harmonis,” tambahnya.

Kenaikan tarif tersebut diakuinya berdampak luas. Sebenarnya, berdasarkan data yang dimiliki JNE beberapa kali menaikkan besaran ongkos. Pada 2008, ongkos kirim JNE dinaikan sebesar 17%. Kemudian, pada 2013 ongkos kirim itu naik sebesar 10-15 %. Terakhir, pada 2015 ongkos kirim naik sekitar 10-15%.

Meski demikian, dengan pengembangan dan inovasi JNE mulai dari jaringan, infrastruktur, strategi distribusi, dan yang lainnya penurunan tarif pengiriman juga terjadi. Besaran penurunan ongkos kirim itu rata-rata sebesar 17%. Ini diberlakukan untuk pengiriman dari Jabodetabek ke beberapa tujuan. 

Kota destinasi paket dengan penurunan ongkos kirim itu yakni Tegal, Purwakarta, Cilegon, Cirebon, Semarang, Surabaya, Bandar Lampung, Madiun, Malang, Probolinggo, Jember, Kupang, Pontianak, Palangkaraya, Samarinda, Ujungpandang, Sorong, Palembang, Batam, Mataram, Bontang, Kendari, Ternate, Ambon, Jayapura, Bengkulu, Jambi, Medan, dan Banda Aceh.

Ke depan, Feriadi menjelaskan untuk menghadapi kenaikan harga kargo udara atau tarif Surat Muatan Udara (SMU) tersebut JNE bersama perusahaan anggota Asperindo lainnya menjalankan beberapa langkah strategis selain melakukan penyesuaian tarif. Antara lain memilih moda transportasi alternatif untuk paket dengan tujuan yang memungkinkan dikirimkan menggunakan selain pesawat terbang. Caranya, menyediakan angkutan freighter yang dapat digunakan bersama anggota Asperindo.

Doni Ramdhani / dnr

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Minggu, 17 Februari 2019 | 20:00 WIB

    Perbarindo Gagas Transformasi Digital BPR

  • Minggu, 17 Februari 2019 | 15:55 WIB

    AFPI Dukung Langkah OJK Berantas Fintech Ilegal

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 15:00 WIB

    Di Bandung, BTN Ajak 25 Developer Tawarkan KPR Gaes!

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 14:30 WIB

    KPR Gaes! Produk BTN Gaet Generasi Milenial

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 14:15 WIB

    XL Axiata Operator Kedua Terbesar Indonesia

  • Kamis, 14 Februari 2019 | 15:00 WIB

    Samsung Penuhi Kebutuhan Monitor Layar Lebar

  • Kamis, 14 Februari 2019 | 06:00 WIB

    XL Axiata Luncurkan Kartu Perdana XL Go Izi

  • Rabu, 13 Februari 2019 | 22:30 WIB

    JNE Bidik 20% Titik Layanan Baru

  • Rabu, 13 Februari 2019 | 20:30 WIB

    Iwapi Didorong Bangkitkan Ekonomi Sektor Pertanian