PMI Jabar Berharap Tambahan Alat Penyimpanan Darah

PMI Jabar Berharap Tambahan Alat Penyimpanan Darah

Kamis, 17 Januari 2019 | 15:35 WIB - Oleh: Rianto Nurdiansyah
INILAH, Bandung – Alat peyimpanan darah yang dimiliki PMI Jawa Barat masih kurang. Kondisi ini mengakibatkan tidak dapat menyimpan darah dalam waktu lama.

Ketua PMI Jabar Adang Rochjan menyampaikan, kurangnya alat ini berpengaruh pada sering kurangnya stok darah di waktu tertentu. Idealnya PMI Jabar memiliki 30 unit alat, termasuk untuk di 27 kabupaten/kota.

"Sehingga kami bisa menghimpun darah lebih lama. Kalau lama-lama darah enggak disimpan di alat kan bisa jadi marus," ujar Adang di di Kantor PMI Jabar, Kota Bandung, Kamis (17/1/2019).

Adang mengatakan, harga satu unit penyimpanan darah mencapai Rp1,3 miliar. Bila dihitung 30 unit sesuai kebutuhan, maka perlu anggaran sekitar Rp30 miliar.

"Dulu kami pernah mengajukan anggaran untuk alat itu. Tapi terbentur anggaran PON 2016 jadi belum disetujui. Kami mengajukan Rp36 miliar dulu," katanya.

Menurutnya, sebagian PMI di kabupaten/kota telah memiliki alat penyimpanan darah. Alat itu hasil usaha swadaya dan bantuan pemerintah daerah. Meski begitu, untuk meningkatkan daya tampung darah di Jabar harus ada tambahan unit.

"Saya mengusulkan pada gubernur agar pengadaan alat ini tercukupi dengan anggaran pemda," katanya.

Adang mengatakan, dengan alat tersebut bisa menampung 400 ribu labu darah dalam setahun. Kebutuhan darah sekitar 2 persen dari jumlah penduduk yang ada di wilayah tersebut. Kebutuhan darah se-Jabar sekitar 900 ribu labu per tahun.

"Ini sesuai dengan ketentuan WHO. Kalau sekarang kan kejar-kejaran stok darah dengan kebutuhan. Tapi alhamdulillah masih bisa tercukupi walaupun akan bisa lebih save kalau ada alat-alat itu," paparnya.

Andaikata alat tersebut sudah ada, nantinya PMI Jabar dapat menjalin kerjasama dengan Kapolda maupun Pangdam agar mengerahkan anggotanya untuk melakukan donor darah. Mengingat kedua institusi tersebut selalu siap berdonor darah.

"Sebelum lebaran, kalau ada alat penyimpanan darah kan kita bisa menyetok. Jadi, stok akan ada terus ga akan kosong," katanya. 

Adang berharap, Gubernur Jabar Ridwan Kamil bisa mencukupi kebutuhan perangkat penyimpanan darah tersebut. PMI Jabar sudah mengajukan anggaran sebesar Rp 5,8 miliar tapi hanya untuk operasional. 

"PMI Jabar kan tidak hanya bekerja internal untuk provinsi tapi kita bicara seluruh kabupaten/kota. Misalnya kalau terjadi bencana," katanya.

Sementara itu, Asisten Daerah (Asda) Bidang Pemerintahan Hukum dan Kesejahteraan Sosial Pemperintah Provinsi Jabar Daud Ahmad berharap PMI Jabar kian menjadi organisasi kemanusiaan yang betul-betul eksis. Terlebih Jabar masuk ke dalam salah satu daerah yang rawan bencana.

"Artinya peran PMI Jabar harus atau betul-betul sangat diharapkan oleh pemerintah daerah untuk bisa eksis sesuai dengan tupoksinya," ujar Daud. 

Menurut Daud, pemerintah daerah tentunya bakal mendorong dari segi anggaran, tak terkecuali fasilitas seperti gedung maupun kendaraan dan sebagainya. Hal itu sebagai bentuk bantuan yang bisa diberikan oleh pemerintah daerah. 

"Gubernur juga mungkin ke depan atau mungkin berharap PMI proaktif apa yang menjadi visi misi Gubernur dari misi-misi kebutuhan daerah apa yang bisa diisi oleh PMI. Itu kita berharap seperti itu Jadi ada Sinergi antara PMI dengan Pemprov Jabar," paparnya.

Rianto Nurdiansyah / dey

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Senin, 18 Februari 2019 | 16:50 WIB

    April Nanti, Jabar Kedatangan Investor India

  • Senin, 18 Februari 2019 | 16:45 WIB

    Anggaran Citarum Harum Cair Paling Telat Maret

  • Jumat, 15 Februari 2019 | 13:10 WIB

    Lulusan SMK Penyumbang Tertinggi Pengangguran di Jabar

  • Kamis, 14 Februari 2019 | 16:35 WIB

    Duh, Dana Citarum Rp600 Miliar Belum Cair