Menyalurkan Bantuan secara Tepat, Bagaimana Caranya?

Menyalurkan Bantuan secara Tepat, Bagaimana Caranya?

Kamis, 10 Januari 2019 | 23:20 WIB - Oleh: Inilah koran
Ilustrasi. Net

INILAH, Bandung - Dikutip dari laman Odesa.id, Ketua Pembina Yayasan Odesa Indonesia Budhiana Kartawijaya bertutur, bila bencana sudah melanda, setiap orang tergerak ke sana tanpa memandang lokasi, suku, ras, atau pun agama, semuanya bertindak atas nama kemanusiaan.

Orang akan mudah berempati dengan tragedi bencana, kejadian spontan yang meluluhkan sendi kehidupan ribuan orang hingga jatuhnya korban. Ternyata, ada satu tragedi dari bencana yang tak kalah membutuhkan perhatian, yaitu bencana yang sifatnya menahun, tersembunyi, dan tidak teperhatikan banyak orang.

“Misalnya, keluarga miskin yang tinggal di gubuk reyot dan puluhan tahun tidak mendapatkan akses air bersih atau anak-anaknya tidak bisa sekolah, atau putus sekolah karena masalah akses jalan atau jarak. Itu bagian dari bencana yang harus diperhatikan,” kata Budhiana saat menyampaikan laporan kerja Yayasan Odesa Indonesia bidang kedermawanan sosial pada acara Temu Sosial Akhir Tahun 2018, di Vila Alam Santosa, Pasir Impun, Cikadut Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu.

Menurut Budhiana, tinggal di rumah reyot sempit (rumah tidak layak huni) disertai kesulitan air bertahun-tahun, akses ekonomi sulit dan anak-anaknya kerepotan bersekolah merupakan bagian dari  bencana yang juga wajib diperhatikan. Sebab ketika para sukarelawan mengadvokasi korban bencana alam juga akan memberikan perhatian pada urusan sanitasi atau air bersih, memikirkan masalah sekolah anak-anak korban, dan juga memikirkan rumah tinggalnya.

“Kami memiliki data yang terhimpun dari ribuan kehidupan keluarga petani kecil di Kawasan Bandung Utara. Di Kecamatan Cimenyan, Cilengkrang, Cileunyi, misalnya, banyak keluarga petani kecil yang rumahnya reyot membahayakan penghuninya, tidak mendapatkan akses air bersih, anak-anaknya kesulitan bersekolah karena kemiskinan orang tuanya,” papar wartawan senior koran terkemuda di Jawa Barat itu.

Menurutnya, selain perlunya model baru untuk mengatasi masalah kemiskinan, terutama masalah akses air dan pendidikan, saluran amal charity atau derma juga perlu ditingkatkan ke arah gerakan filantropi. Sebab menurutnya, tidak semua tindakan amal charity menyelesaikan masalah, namun jika diarahkan ke model pendampingan model filantropi, charity tersebut bisa menyelesaikan masalah. “Charity yang menyelesaikan masalah disebut filantropi,” jelasnya. (*)

Inilah koran / sur

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Rabu, 23 Januari 2019 | 21:30 WIB

    Film Gundala, Superhero Jagoan Indonesia

  • Rabu, 23 Januari 2019 | 10:50 WIB

    Junk Food Memang Menggoda, Ini Trik Menghindarinya

  • Rabu, 23 Januari 2019 | 10:45 WIB

    Fender Luncurkan Gitar Akustik Buatan AS

  • Rabu, 23 Januari 2019 | 10:40 WIB

    20.000 Perempuan Nigeria Jadi Korban Prostitusi Dunia

  • Rabu, 23 Januari 2019 | 10:10 WIB

    Berencana Serang Komunitas Muslim, 4 Pria Ditahan di AS

  • Selasa, 22 Januari 2019 | 20:44 WIB

    Penyiar Ini Dibui Gara-gara Mewancarai Gay

  • Selasa, 22 Januari 2019 | 18:30 WIB

    Ganti Kasir Konvensional dengan Aplikasi Moka

  • Selasa, 22 Januari 2019 | 18:00 WIB

    Ingin Dapat Diskon Restoran, Gunakan Eatigo

  • Selasa, 22 Januari 2019 | 15:30 WIB

    Mau Liburan ke Karimun Jawa, Tahan Dulu. Ini Alasannya