Inilah Dukungan Dekranasda Kota Bandung Untuk Produk Kerajinan

Inilah Dukungan Dekranasda Kota Bandung Untuk Produk Kerajinan

Jumat, 7 Desember 2018 | 23:14 WIB - Oleh: Erika Lia
Ketua Dekranasda Provinsi Jabar, Atalia Kamil, mengunjungi booth Dekranasda Kota Bandung dan melihat. Erika Lia Lestari
INILAH, Cirebon- Aneka produk kerajinan lahir dari ide dan tangan-tangan kreatif di Kota Bandung. Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Bandung pun berinovasi memberi sokongan.

Serentetan fasilitas diberikan Dekranasda Kota Bandung demi tumbuh kembang hasil kreativitas masyarakatnya berupa kerajinan. Tak hanya pasar domestik, buah kreativitas masyarakat Kota Bandung terus diupayakan menembus pasar internasional.

Ketua Harian Dekranasda Kota Bandung yang juga Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandung, Erik M Atthauriq mengungkapkan, aneka kerajinan yang lahir di kota kembang meliputi fashion, aksesoris, hingga kuliner. Sokongan Dekranasda sendiri mulai dari peningkatan kemampuan (skill) perajin hingga memasarkannya ke luar negeri.

"Kota Bandung adalah gudangnya kreativitas. Maka, kami berupaya mendukungnya dengan memfasilitasi hasil karya para perajinnya," kata Erik kepada INILAH KORAN di sela Weekend Market yang digelar Dekranasda Provinsi Jawa Barat pada 7-8 Desember 2018 di mal Transmart, Kota Cirebon, Jumat (7/11).

Salah satu upaya Dekranasda Kota Bandung dalam memfasilitasi para perajin, salah satunya dengan memberi pengetahuan perihal desain kemasan hingga berkaitan dengan hak merk dagang setiap kerajinan. Bahkan, untuk hasil kreativitas berupa makanan dan minuman serta komestik, pihaknya bekerjasama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam hal kehalalan produk.

Upaya lain yang tergolong unik, Dekranasda Kota Bandung telah melahirkan konsep pemasaran bertajuk Little Bandung. Sejauh ini, setidaknya tercetus tiga cara bagaimana Pemkot Bandung mempromosikan kerajinan-kerajinan hasil karya warganya yang kreatif. "Dalam Little Bandung ada tiga cara yang dilakukan, masing-masing melalui wall, mobile, dan store," sebut Erik.

Little Bandung Wall berkonsep memajang setiap kerajinan pada dinding restoran-restoran yang telah memiliki kerjasama dengan otorita Kota Bandung. Dengan cara itu, pengunjung restoran dapat melihat dan diharapkan tertarik terhadap hasil-hasil karya perajin."Little Bandung Wall sudah pernah ada di restoran Indonesia di Malaysia, Australia, dan Jepang," tuturnya.

Untuk Little Bandung Store, Makasar menjadi salah satu kota di Indonesia yang disasar Pemkot Bandung. Lain halnya dengan Little Bandung Mobile di mana promosi dilakukan dengan cara mengikuti pameran-pameran kerajinan, seperti pada Weekend Market yang digelar Dekranasda Jabar dalam dua hari ini.

Satu cara lainnya disebut Little Bandung Catalog. Erik menjelaskan, promosi pada cara ini dilakukan dengan mencantumkan sekitar 150 produk kerajinan unggulan yang telah diakurasi.

"Katalog-katalog ini kemudian disebar, salah satunya ke kantor atase negara-negara ASEAN dan Asia Pasifik. Kami sediakan katalog dengan empat bahasa, yakni Inggris, Jepang, Korea, dan Cina untuk meraih pasar internasional," cetusnya.

Di luar itu, Pemkot Bandung pun mendirikan Gedung Kreatif pada 2016. Di sini, ditampunglah kerajinan-kerajinan karya warga Kota Bandung.

Hingga kini, dia mengaku, perkembangan seni kerajinan di Kota Bandung telah membanggakan. Sejauh ini, setidaknya Malaysia telah menjadi salah satu negara dengan pangsa pasar besar.

Dalam Weekend Market yang dibuka resmi Ketua Dekranasda Jabar, Atalia Kamil itu, Dekranasda Kota Bandung memamerkan produk-produk kerajinan unggulan. Kerajinan itu di antaranya batik inovasi yang dihasilkan dari air (mangsikelir), batik Hasan (seniman ITB), batio dari cepretan sapu lidi (nyere), tas dari karung goni sebagai bentuk pemanfaatan limbah, dan masih banyak lagi."Kami akan terus mendukung kreativitas warga Kota Bandung," tegas Erik.

Sementara itu, pencipta batik air (mangsikelir) yang turut dalam pameran itu, Linda Marlina, berkesempatan mempertunjukkan cara pembuatan batik air kepada Atalia yang merupakan istri Gubernur Jabar, Ridwan Kamil. Tak hanya Atalia, mangsikelir pun menyedot perhatian banyak pengunjung.

Menurut Linda, mangsikelir merupakan teknik melukis di atas permukaan air. Batik air serupa halnya dengan kesenian Jepang bernama suminagashi atau kesenian Mesir bernama ebru."Awalnya saya tertarik dengan teknik melukis jepang. Kemudian saya dalami," ungkap Linda.

Dalam mangsikelir, Linda cukup menyediakan air dalam sebuah wadah persegi panjang dan melukiskan cat ke atas air. Setelah tercipta motif, dia pun meletakkan kain polos ke atasnya. Voila! Guratan warna pun tercetak di atas kain polos tadi.

Erika Lia / ghi

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Kamis, 6 Desember 2018 | 10:41 WIB

    Anugerah untuk Wajib Pajak Terbaik

  • Selasa, 4 Desember 2018 | 10:24 WIB

    Humas Kota Bandung Raih 3 Nominasi AMH 2018

  • Senin, 3 Desember 2018 | 14:53 WIB

    Tahun Depan Kota Bandung Tidak Menambah CCTV

  • Minggu, 2 Desember 2018 | 12:15 WIB

    Di Tangan Kang Pisman, Sampah Jadi Berkah

  • Sabtu, 1 Desember 2018 | 11:11 WIB

    Yana: Mudah-mudahan Tinggal Sekali Lagi Ketemu