Jabar Saber Hoaks, Bentengi Masyarakat dari Rekayasa Informasi

Jabar Saber Hoaks, Bentengi Masyarakat dari Rekayasa Informasi

Jumat, 7 Desember 2018 | 12:44 WIB - Oleh: Rianto Nurdiansyah
. Rianto Nurdiansyah
INILAH, Bandung-Kondusifitas adalah harga mahal sebagai pondasi dasar untuk membangun Jawa Barat juara lahir batin. Namun kadang kala rekayasa Informasi alias berita hoaks mengecoh, hingga membuat masyarakat resah.

Karena itu, Gubernur Jabar Ridwan Kamil meresmikan terbentuknya tim Jabar Sapu Bersih (Saber) Hoaks di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (7/12/2018). Dia katakan, 90 persen personel tim ini merupakan anak milenial yang ahli di bidang Information technology  (IT)

"Tugasnya memverifikasi permohonan masyarakat juga merilis secara rutin tanpa diminta berita berita yang beredar di Jabar yang diasumsikan Hoaks," ujar Gubernur karib disapa Emil ini usai peluncuran Jabar Saber Hoaks.

Dia memastikan, Jabar Saber Hoaks ini bakal membentengi masyarakat dari berita bohong yang beredar di Jabar. Terlebih yang dilakukan oleh warga Jabar. "Atau korban korbannya juga pihak rakyat dari Jabar," tambah dia.

Emil memaparkan, berita hoaks tak jarang membuat situasi dan kondisi menjadi tak kondusif. Bahkan, lanjut dia, perang dunia ke-2 tahun 1939-1945 tercetus karena adanya rekayasa informasi. Kematian masal warga sipil pun tak dapat dihindarkan, termasuk Holocaust dan pemakaian senjata nuklir. Di mana sebanyak 50 juta sampai 70 juta jiwa tewas kala itu.

"Itu berawal dari serangan Jerman ke Polandia, dan itu gara gara hoaks. Jadi diberitakan seola-olah ada tentara Polandia yang akan menyerang Jerman, disampaikan militer Jerman ke Hitler," paparnya.

Bulan Oktober lalu, warga Jawa Barat pun dihebohkan dengan berita hoaks yang mengabarkan adanya penganiayaan kepada salah satu aktifis perempuan di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. Saat merebaknya kabar bohong tersebut, Emil pun malah mendapatkan getahnya.

"Sebagai mantan walikota dibully saya, dimarahi. Kenapa itu di komplek militer bisa kecolongan? Ternyata hoax. Ini yang menjadi atensi kita," tegasnya.

Kendati begitu, Emil sampaikan, dibentuknya Jabar Saber Hoaks juga dengan harapan menjadikan masyarakat lebih produkif. Demikian, tak lagi membahas berita yang diragukan keakuratannya..

"Waktu yang seharusnya kita pakai untuk hal hal produktif menjadi habis hanya untuk membahas yang tidak perlu dibahas, yaitu berita berita bohong. Saya kira itu," kata dia.

Suatu saat, lanjut dia, tim ini akan dibubarkan ketika masyarakat Jabar sudah benar-benar mampu memilah informasi yang bohong dan yang akurat. Adapun yang dimaksud hoaks, menurut dia, tak hanya sekadar tulisan. Tapi juga bisa dilakukan melalui foto atau gambar.

"Sampai suatu hari lembaga ini akan dibubarkan pada tahap kita meyakini bahwa masyrakat Jabar sudah tangguh sudah naik kelas menjadi masyarakat yang melek literasi dan anti hoaks," pungkasnya.


Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Kadiskominfo) Jabar Hening Widyatmoko menyampaikan pihaknya  pun ikut andil untuk menyukseskan tim Jabar Saber Hoaks. Di mana berlaku sebagai lembaga atau rumah untuk program ini.

"Kami menganggap perlu melibatkan pihak lain yang memang punya idealisme punya satu misi untuk membantu provinsi," ujar Hening.

Menurut Hening, tim ini sangat diperlukan dan sejauh ini belum ada inisiatif dari provinsi lain yang membuat program serupa untuk menangkal berita hoaks. Karena itu, dia mengklaim Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jabar sebagai pelopor membentuk tim ini.

"Mudah-mudahaan ini juga in-line dengan keinginan pak gubernur terhadap kebutuhan Jabar digital. Jadi salah satunya seperti ini digarap," katanya.

Adapain tiga tugas tim ini, kata dia,  memantau, mengklarifikasi, dan mengedukasi. Mengenai klarifikasi, merupakan counter untuk berita hoaks tersebut.

"Kalau ditemukan berita hoax, maka dicari berita yang asli sehingga masyarakat tau ini hoax. Ada unit unit yang menyampaikan infirmasi itu," katanya.

Menurut dia, program ini akan menyadarkan publik bahwa hoax itu sudah membahayakan. Di mana nantinya bilamana masyarakat tidak sadar bisa ikut terlibat. Lanjut dia, tim ini dapat membantu meneruskan penindakan hukum para pelaku penyebar hoaks kepada Aparat Penegak Hukum (APH).

"Kalau represif nanti kita akan teruskan ke kepolisian. Jadi kepolisian menjadi bagian dari eksternalnya. Yang bisa membantu proses hukum diperlukan maka penegakkan hukum akan dilakukan pihak kepolisian,"  paparnya.

Adapun untuk masyarakat yang hendak melaporkan berita rekayasa kepada tim ini bisa melalui akun Whatsaap maupun Line di nomor 082118670700. Atau, melalui akun media sosial Facebook: Jabar Saber Hoaks. Juga Instagram dan Twitter: @jabarsaberhoaks.

Rianto Nurdiansyah / jek

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Minggu, 9 Desember 2018 | 12:15 WIB

    Sejarah, Eselon 2 Pemprov Jabar Diuji Kompetensi

  • Minggu, 9 Desember 2018 | 06:38 WIB

    Provinsi Jabar, Provinsi Terinovatif IGA 2018

  • Minggu, 9 Desember 2018 | 06:25 WIB

    Kang Uu Buka Porseni Penyuluh Agama se-Jabar