Musim Hujan, Petani di Purwakarta Diminta Percepat Tanam

Musim Hujan, Petani di Purwakarta Diminta Percepat Tanam

Jumat, 7 Desember 2018 | 12:43 WIB - Oleh: Asep Mulyana
. Ilustrasi/net
INILAH, Purwakarta - Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta meminta petani tak menunda musim tanam rendeng medio Oktober-Maret (Okmar). 

Imbauan tersebut bukan tanpa alasan. Sebab, saat ini ketersediaan air masih sangat melimpah. Hal tersebut bisa menjadi keuntungan tersendiri bagi petani untuk melakukan tanam padi.

Kepala Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Purwakarta Agus Rachlan Suherlan menuturkan, target luasan tanam di musim rendeng medio okmar ini mencapai 27 ribu hektare. Namun, sampai saat ini yang baru melakukan tanam hanya 8.000 hektare.

"Yang belum melakukan tanah masih banyak, sekitar 19 ribu hektare lagi. Makani, kami terus mendorong supaya petani memercepat tanam," ujar Agus kepada INILAH, Jumat (7/12/2018).

Sebenarnya, sambung dia, ada sejumlah keuntungan jika petani mau memercepat tanam. Salah satunya, ketika masuk ke puncak musim hujan, tanaman padi sudah tinggi. Jadi, jika ada genangan air, padinya telah kuat dan tidak rawan membusuk.

Dalam hal ini, Agus juga menyarankan agar lebih bijak lagi menggunakan benih padi. Mengingat, saat ini telah memasuki musim hujan. Jadi, bagusnya lebih memilih benih padi yang tahan terhadap serangan hama.

"Musim dingin seperti ini, tanaman padi sangat rawan terserang hama pengganggu. Makanya, pilih juga benih yang tahan terhadap serangan hama," jelas dia.

Dia sedikit memberi bocoran soal benih yang tahan terhadap serangan hama. Seperti, yang telah dirilis Kementerian Pertanian. Di antaranya, Inpari 31, Inpari 32, Ciherang, Mekongga. 

Sedangkan, untuk benih padi yang genjah, diusulkan bisa menggunakan Inpari 42 dan Inpari 43. Benih padi yang diusulkan itu, sangat cocok dimanfaatkan di musim rendeng ini. Salah satu keuntungannya, yaitu benih tersebut tahan terhadap serangan hama.

Terkait pengendalian hama, lanjut Agus, sudah ada sejumlah petani yang memanfaatkan tanaman repugia atau sejenis kenikir untuk menangkal hama. Repugia berfungsi juga untuk tempat inang sementara musuh alami dari hama padi.

Repugia ini, sambung Agus, ditanam di pematang sawah. Saat ini, petani yang telah memanfaatkan tanaman ini ada di Desa Selaawi (Kecamatan Pasawahan), Desa Galudra (Kecamatan Pondoksalam), serta terbaru di Desa Nagrak (Kecamatan Darangdan).

"Pemanfaatan repugia ini, salah satu cara untuk meminimalisasi serangan hama. Saat ini, petani yang telah intens menggunakan repugia, yaitu petani yang tergabung dalam kelompok petani padi organik," ujar Agus. 

Asep Mulyana / gin

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Senin, 10 Desember 2018 | 17:35 WIB

    Ratusan Santri Gedongan Cirebon Seleksi Magang ke Jepang

  • Senin, 10 Desember 2018 | 16:20 WIB

    BB Padi Sukamandi Butuh Tambahan Peneliti

  • Senin, 10 Desember 2018 | 10:10 WIB

    Pembebasan Lahan Bandara Sukabumi Mundur Jadi 2019

  • Jumat, 7 Desember 2018 | 11:25 WIB

    Pencaker di Garut Capai 22.905 Orang

  • Kamis, 6 Desember 2018 | 15:10 WIB

    Pemkot Cirebon Tawarkan Tiongkok Kerja Sama Pariwisata