Membangun Desa itu Sulit tapi Tak Mustahil

Membangun Desa itu Sulit tapi Tak Mustahil

Rabu, 5 Desember 2018 | 15:54 WIB - Oleh: Daulat Fajar Yanuar
Presiden Joko Widodo (kiri) berbincang dengan Menteri Desa PDTT Eko Putro Sandjojo (kanan) .. ANTARAFOTO
INILAH, Jakarta – Pembangunan desa tidak selamanya hanya menyasar infrastruktur tetapi juga harus melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat.

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan, membangun desa bukanlah hal yang mudah tetapi juga bukan berarti sesuatu yang tidak mungkin.

Menurut Eko, membangun desa memerlukan energi yang luar biasa, tidak bias bekerja sendiri dan membutuhkan komitmen semua pemangku kebijakan tanpa memandang golongan. 

“Untuk membangun desa, maka kita harus mengajak semuanya untuk ikut terlibat dalam pembangunan tersebut,” kata Eko dalam peluncuran buku keduanya berjudul ‘Rural EKOnomics II, Meyakini Desa Mau dan Mampu Membangun’ di Jakarta, Rabu (05/12).

Sejalan dengan hal tersebut, Country Director of World Bank Indonesia Rodrigo Chavez mengapresiasi perjalanan model pembanguann desa yang dilakukan Menteri Eko dan akan lebih banyak kesempatan kerja sama ke depannya.

Dia menambahkan, ada dua tantangan dalam pembangunan desa. Pertama, prasarana, kedua, SDM. Menurutnya Kemendes PDTT bertugas membantu menutupi tantangan di pedesaan itu. Prasarana di daerah pinggiran Indonesia Timur yang masih susah dan Kemendes PDTT bisa gunakan dana yg dibutuhkan untuk bangun prasarana di sana.

"Tingkat kemiskinan menurun, Indonesia dalam hati dan pikiran saya memiliki semua kemampuan untuk jadi negara yang makmur dan sejahtera. Semua yang sudah dijalankan Menteri Eko dan Kemendes PDTT kedepan khususnya kalau membangun sistem model dan konektivitas desa, yakin Indonesia bisa bangun desa terus," ujarnya.

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria mengatakan, di masa sekarang pembangunan desa harus sejalan dengan perkembangan teknologi terkini. Dia berharap melalui konsep akademisi desa maka masyarakatnya mampu bertransformasi dengan turut mengikuti digital literasi.

“Dengan buku ini lebih terdokumentasi, jadi bisa untuk bahan pembelajaran," ujarnya. 

Daulat Fajar Yanuar / bsf

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Selasa, 11 Desember 2018 | 10:30 WIB

    Pelayanan Publik Bagus, Kepercayaan Warga Tinggi

  • Senin, 10 Desember 2018 | 18:30 WIB

    Penataan Guru Sulit Kalau Sistemnya Tidak Jelas

  • Senin, 10 Desember 2018 | 14:50 WIB

    Tahun Depan Siswa tak Perlu Repot Daftar Sekolah Lagi

  • Minggu, 9 Desember 2018 | 11:35 WIB

    Literasi Digital Minim Lebarkan Kesenjangan Sosial Ekonomi

  • Sabtu, 8 Desember 2018 | 14:02 WIB

    Menteri Lukman Ajak Guru Besar Tularkan Toleransi

  • Rabu, 5 Desember 2018 | 15:54 WIB

    Membangun Desa itu Sulit tapi Tak Mustahil