TIK 4.0 Menunjang Pemerataan Pendidikan

TIK 4.0 Menunjang Pemerataan Pendidikan

Selasa, 4 Desember 2018 | 14:46 WIB - Oleh: Daulat Fajar Yanuar
Muhadjir Effendy dalam pembukaan simposium ISODEL 2018. INILAH/Daulat Fajar
INILAH, Jakarta - Keberadaan Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK) menjadi peluang dan tantangan terbaru dalam dunia pendidikan. 

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, TIK dapat membantu pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien atau lebih mudah dan sederhana.

Agar dunia pendidikan Indonesia tidak tertinggal dan mampu mengejar kereta perkembangan global yang terus berevolusi, kata Muhadjir, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan 'International Symposium On Open, Distance, and E-Learning (ISODEL) 2018 dengan tema Pendidikan 4.0 untuk Indonesia.

Konsep pendidikan 4.0 diyakini dapat menutup kesenjangan dalam penyediaan akses dan pendidikan berkualitas untuk populasi atau daerah yang terisolasi. 

Muhadjir menyebutkan, pemerintah telah menyediakan akses informasi, komunikasi, dan teknologi untuk meningkatkan kualitas pendidikan di daerah terpencil dan pedesaan melalui program Universal Service Obligation dan pelatihan rumah belajara kepada guru-guru di daerah.

"Untuk melaksanakan program itu, kami bermitra dengan Kementerian Komunikasi dan Inforamsi dan juga dengan sektor, dengan memberikan program yang disebut Bantuan TIK untuk sekolah di wilayah 3T.  Hingga tahun ini, lebih dari 1.400 sekolah di daerah terpencil hampir di semua provinsi telah terhubung dengan akses internet," kata Muhadjir dalam pembukaan simposium ISODEL 2018, Senin (03/12) malam kemarin.

Sementara Kepala Pusat Teknologi dan Komunikasi (Pustekkom) Kemendikbud, Gogot Suharwoto mengatakan, ada tiga tantangan utama pembelajaran era 4.0 yakni yang pertama adalah kesenjangan kompetensi guru. 

Berdasarkan suvei yang dilakukan Pustekkom, hanya 40 persen guru non-TIK yang siap mengajar dengan menggunakan teknologi 4.0, sisanya dinilai belum siap.

Dia melanjutkan, tantangan utama yang kedua adalah kesenjangan geografis. Negara Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau tentu memiliki daerah yang luar biasa terpencil dan kondisinya sangat berbeda jika dibandingkan satu sama lainnya baik di kawasan perkotaan ataupun
perdesaan. Sedangkan tantangan utama yang ketiga adalah kesenjangan generasi antara murid dan guru. 

"Ini yang harus kita siapkan. Pertama, soal kompetensi guru, kita latih gurunya. Kita sudah melakukan pelatihan guru, setidaknya kita latih 10 ribu guru setiap tahunnya. Kita juga bekerjasama dengan Kemenkominfo untuk memberikan akses, bantuan peralatan dan pelatihan guru kepada 1.474 sekolah terpencil. Sedangkan untuk mengatasi kesenjangan generasi, kita siapkan platform yang sama bagi guru dan murid bernama Rumah Belajar," kata Gogot. 

Daulat Fajar Yanuar / bsf

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Jumat, 14 Desember 2018 | 21:17 WIB

    Pemerintah Jangan Persulit Mahasiswa Ikut Pemilu

  • Jumat, 14 Desember 2018 | 20:15 WIB

    Belajar Bahasa Isyarat Bikin Awet Muda

  • Jumat, 14 Desember 2018 | 17:45 WIB

    Belajar Bahasa Isyarat Bikin Awet Muda

  • Jumat, 14 Desember 2018 | 13:00 WIB

    Mau Gabung Nasdem TGB?

  • Jumat, 14 Desember 2018 | 12:53 WIB

    Ketika Presiden Jokowi Curhat soal PKI

  • Kamis, 13 Desember 2018 | 18:38 WIB

    Gaji Guru Honorer Masih Aman Dicover DAU