Pasar Domestik Dominasi Pemasaran Produk Batik

Pasar Domestik Dominasi Pemasaran Produk Batik

Kamis, 29 November 2018 | 17:07 WIB - Oleh: Doni Ramdhani
. Syamsuddin Nasoetion
INILAH, Bandung - Sejauh ini, pemasaran dan distribusi produk batik dan turunannya masih didominasi pasar domestik. 

Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) Komarudin Kudiya mengatakan, komposisi antara pasar domestik dan mancanegara mencapai 90:10 untuk keunggulan pasar dalam negeri. Untuk itu, pemillik brand Batik Komar ini tetap fokus menggarap pasar Tanah Air.

"Untuk batik ini, memang pasar domestik masih mendominasi. Tapi, kita tidak meninggalkan pemasaran luar negeri seperti ke Amerika dan Jepang," kata Komarudin saat pencanangan Kampung Batik Cigadung di Galeri Batik Komar, Kamis (29/11).

Menurutnya, kini permintaan untuk komoditas batik ini cenderung menurun. Dia memprediksi, hal itu dikarenakan situasi perekonomian yang relatif belum stabil. Penurunan demand itu berdampak pada dikuranginya sisi supply. Padahal, saat ini jumlah perajin dan pengusaha batik trennya meningkat.

Selain secara makro, anjloknya permintaan itu pun disebabkan pasar batik yang kini relatif jenuh. Pasalnya, tak sedikit event organizer yang mengadakan pameran batik terlalu sering. Bahkan, dalam sebulan itu ada tiga-empat kali pameran batik.

Terkait jumlah perajin batik, Komarudin mengaku angka sumber daya manusia itu terus tumbuh. Meski pertumbuhannya tidak terlalu signifikan, namun sebarannya kini lebih merata. "Bahkan, di Jabar ini jumlah perajin batik sudah ada di semua 27 kabupaten/kota se-Jabar," sebutnya yang juga menjabat Ketua Yayasan Batik Indonesia dan Ketua Harian Yayasan Batik Jawa Barat (YBJB) itu.

Berdasarkan data perajin batik di Jabar itu menunjukkan Kabupaten Cirebon merupakan daerah tertinggi jumlah perajinnya. Angkanya mencapai 1.500 orang. Disusul perajin Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Indramayu yang masing-masing terdapat 300 orang.

Kemudian, perajin di Kabupaten Tasikmalaya mencapai 200 orang dan Kota Bandung terdapat 100 orang. Plus, perajin di kabupaten/kota sisanya tak lebih dari 50 orang di setiap daerah. Total, dia menyebutkan perajin batik di Jabar ini mencapai 3.000an orang.

"Tingginya perajin di Kabupaten Cirebon itu berkorelasi terhadap kapasitas produksi batik. Pada 2015, kapasitas produksi batik di Kabupaten Cirebon itu mencapai Rp60 miliar per tahun. Ini juga berhubungan dengan tingginya pemakaian bahan baku batik di daerah itu," tuturnya yang kini memiliki 10 ribu desain dan 150 hak cipta yang terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM.

Selain mengadakan pameran rutin per bulan di luar negeri, untuk memperluas pasar itu sejumlah pengusaha batik menggandeng dan bermitra dengan perusahaan besar. Biasanya, pelanggan korporasi itu minta dibuatkan seragam batik sesuai warna dan nuansa perusahaan.

Doni Ramdhani / jul

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Selasa, 11 Desember 2018 | 17:17 WIB

    Harbokir, Pengiriman Barang JNE Naik 178%

  • Selasa, 11 Desember 2018 | 13:30 WIB

    Garuda Indonesia Akan Beroperasi di Kertajati

  • Senin, 10 Desember 2018 | 16:26 WIB

    Paytren Bidik 10 Juta Pengguna Aktif

  • Minggu, 9 Desember 2018 | 17:53 WIB

    BI Dukung Hilirisasi Kopi Jabar

  • Minggu, 9 Desember 2018 | 16:58 WIB

    Penjualan Motor Sport Honda Capai 41.876 Unit

  • Jumat, 7 Desember 2018 | 16:58 WIB

    YAHM Kembangkan Kampung Labirin di Bogor

  • Kamis, 6 Desember 2018 | 17:06 WIB

    Pendapatan PT KAI Daop 2 Lampaui Target