'Bom Waktu' Jembatan di Jabar Selatan

'Bom Waktu' Jembatan di Jabar Selatan

Jumat, 9 November 2018 | 10:52 WIB - Oleh: Nul Zainulmukhtar
Foto udara Jembatan Pasanggrahan atau jembatan Pansel Jabar yang ambruk diterjang arus sungai. . ANTARA FOTO/Adeng Bustomi
INILAH, Garut - Aktivis Badan Pengelola Pengembangan Wilayah Jabsel Badan Pengembangan Wilayah Jabar Selatan Suryaman Anang Suatma meminta pihak terkait mengusut robohnya jembatan Cipatujah di wilayah selatan Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (6/11/2018) lalu. 

Anang mencurigai robohnya jembatan di jalur lintas Jabar Selatan (Jabsel) itu bukan semata-mata karena bencana alam banjir bandang. Pasalnya, usia bangunan jembatan yang menghubungkan wilayah selatan Kabupaten Tasikmalaya dengan wilayah selatan Kabupaten Garut tersebut belum terbilang tua, baru 12 tahun kurang. 

Proses pelaksanaan pembangunan jembatan berikut pemeliharaannya pun masih menyisakan sejumlah tanda tanya. Terlebih, jika dirunut ke belakang maka rubuhnya jembatan Cipatujah yang notabene berada pada jalur lintas selatan Jabsel itu bukan merupakan peristiwa pertama yang terjadi. 

Pada November 2017, Jembatan Kadupandak Cianjur rubuh. Tahun sebelumnya pada Oktober 2016, Jembatan Putrapinggan juga rubuh. "Setiap tahun, di Jabsel, ada saja jembatan yang rubuh. Semua jembatan ini, usianya kurang dari 12 tahun. Apa benar ini semua semata-mata karena bencana? Ini yang mesti dilakukan pengusutan," kata Suryaman, Kamis (8/11/2018).

"Saya yakin itu bukan karena bencana alam cuaca ekstrim semata, tapi lebih karena kontur, dan struktur fisik bangunannya memang kurang baik di beberapa bagiannya. Terutama bagian fondasinya. Ini yang mesti dilakukan pengusutan sampai tuntas. Jangan sampai setiap kali jembatan roboh karena banjir atau gempa misalnya maka yang menjadi tersangkanya selalu bencana alam," kata Anang.

Menurut mantan anggota DPRD Kabupaten Garut itu, banyak infrastruktur jembatan di Jabsel dibangun cenderung asal-asalan. Didukung sulitnya akses memasok bahan material, dan keterjangkauan pengawasan, serta sistem perencanaan belum sempurna. 

Hal itu terutama ketika dilakukan pembangunan infrastruktur jembatan dan jalan sebelum tahun 2012, terlebih pada saat jalan lintas selatan masih merupakan jalan nonstatus. Karenanya, lanjut Suryaman, sebaiknya dilakukan pengecekan terhadap kondisi seluruh jembatan yang ada di Jabsel untuk mencegah kejadian serupa dengan jembatan Cipatujah. 

"Kita khawatir, jangan-jangan semua jembatan di Jabsel kondisinya tak sebaik yang diperkirakan. Sehingga menjadi bom waktu. Bisa roboh sewaktu-waktu ada bencana alam. Padahal jumlah bentangan jembatan di lintas Jabsel ini banyak, sekitar 36 jembatan, mulai perbatasan Banten-Pelabuhan Ratu hingga Pangandaran," ingat Dewan Penasihat Presidium Garut Selatan itu. 

Seharusnya, ujar Anang, pembangunan infrastruktur termasuk jembatan, dan jalan di wilayah Jabsel itu disesuaikan dengan kondisi alam Jabsel sendiri yang dikenal ekstrim, dan rawan terjadi bencana alam. Bangunannya mestinya tahan bencana.

"Kita tak berharap infrastruktur jalan maupun jembatan selesai dibangun, begitu bencana datang, infrastruktur tersebut langsung amburadul. Yang disalahkan bencana. Padahal memang kontur dan struktur bangunannya tak sesuai spek," katanya.

Karena itu pula, ingatnya lagi, perusahaan pelaksana pembangunan infrastruktur jembatan dan jalan pun mesti diseleksi ketat. Begitu juga menyangkut proses perencanaan, pelaksanaan hingga pengawasannya mesti benar-benar sesuai ketentuan.

Nul Zainulmukhtar / gin

Tidak Ada Komentar.


Tinggalkan Komentar


Berita Lainnya

  • Sabtu, 19 Januari 2019 | 23:30 WIB

    Parah, Kota Cirebon Urutan Kedua Peredaran Narkoba

  • Sabtu, 19 Januari 2019 | 23:00 WIB

    Ada Apa dengan Azis?

  • Jumat, 18 Januari 2019 | 23:30 WIB

    DPRD Jabar Inisiasi Forum Komunikasi Badan Kehormatan

  • Jumat, 18 Januari 2019 | 16:40 WIB

    Mahasiswa Garut Gagal Beri Raport Merah ke Jokowi