• Headline

    Pemprov Jabar Atasi Dampak Kemarau

    Oleh : Rianto Nurdiansyah08 Agustus 2018 17:39
    INILAH, Bandung-Sebanyak 19 daerah di Jawa Barat mengalami dampak musim kemarau. Pemerintah Provinsi Jabar sudah menjalin komunikasi dengan beberbagai pihak untuk mengatasi ini.

    Pejabat Gubernur Jawa Barat Mochamad Iriawan mengatakan permasalahan ini sudah dikoodinasikan kepada komunitas setempat. Untuk menidaklanjuti, beberapa intansi seperti TNI/Polri pun dilibatkan.

    "Kita berdayakan komponen yang ada. Dengan harapan mudah-mudahan bisa selesai," ujar Iriawan di Gedung Sate, Kota Bandung, Rabu (8/8).

    Selain itu, pihaknya juga memaksimalkan peran pemerintah daerah tingkat dua untuk mengantisipasi kekeringan ini. Upaya lainnya, Pemprov Jabar juga menyiapkan tenaga dan membantu keuangan setiap daerah yang terdampak kemarau.

    Meskipun begitu, dia mengklaim, 19 daerah di Jabar yang mengalami dampak kemaraun ini tidak separah di wilayah lain. Adapun yang mengalami kekeringan itu di antaranya Indramayu dan Kerawang.

    "Yang jelas dari tingkat dua juga konsen untuk masalaha ini. Memang ada cadangan kira-kira sebulan lagi air-air yang ada di wilayahnya, jadi kita maksimalkan untuk bisa mencover kekeringan di Jabar," pungkasnya.

    Sementara itu, Sekretaris Daerah (Sekda) Jabar Iwa Karniwa mengatakan, lahan sawah yang terdampak kemarau meluas mencapai 12.572 hektare. Itu berdasarkan laporan Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Jabar per 3 Agustus lalu,

    "Rinciannya 5.023 hektare rusak ringan, 3.838 hektare rusak sedang, sebanyak 2.950 hektare kekeringan berat. Sementara yang puso 748 hektare," ujar Iwa.

    Menurut dia, hampir varietas padi yang ditanam petani pun terdampak musim kemarau ini, mulai padi jenis Ciherang, Sintanur, Inpari 30, hingga IR 42. Kata dia, berdasarkan pantauan di lapangan, kekeringan mengganggu satu kali masa panen dimana durasi tanam sawah yang terdampak 30-105 hari.

    Dia sampaikan, Kabupaten Indramayu mengalami dampak terparah. Tercatat, sebanyak 5.314 hektare mengalami kerusakan ringan, 1.772 hektare rusak sedang, dan 1.321 hektare rusak berat serta 282 hektare mengalami puso.

    "Dampaknya merata di 11 kecamatan di Indramayu. Terparah ada di Kecamatan Kandanghaur dan Gabus Wetan, ada ratusan hektare gagal panen atau puso. Paling ringan ada di Kecamatan Balongan yang mengalami kekeringan hanya 28 hektare," paparnya.

    Adapun di luar Kabupaten Indramayu, sawah puso tercatat di Majalengka 20 hektare, Garut 133 hektare, Bogor 12 hektare, Sukabumi 10 hektare, Cianjur 1 hektar, dan Sumedang 14 hektare. Sedangkan Ciamis ada 92 hektare puso, Cirebon 20 hektare, Kuningan 14 hektare, dan terakhir Pangandaran cukup besar sampai 170 hektare.

    Menurut Iwa, pihaknya bersama pemerintah daerah sudah melakukan antisipasi. Musalnya saja dengan pompanisasi dan perbaikan saluran irigasi.

    "Selain itu, di sejumlah daerah juga dibuat sumur pantek dan embung. Sehingga, kadar kekeringan berubah, dari rusak berat jadi sedang, ringan jadi normal. Untuk kerugian masih kita hitung," jelas dia.[jek]

    TAG :


    Berita TERKAIT