• Pakai Narkoba, Penjara atau Liang Lahat

    Oleh : redaksi30 Juli 2018 13:54
    INILAH, Bandung - Penjabat Gubernur Jawa Barat M Iriawan mengatakan pilihan bagi seseorang yang menggunakan narkotika ada dua yakni ke penjara atau menuju liang lahat (kematian).

    Hal itu diungkap Iriawan pada Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tahun 2018 Tingkat Provinsi Jawa Barat, di Gedung Sate Bandung, Senin (30/7).

    "Narkoba, menjadi ancaman bangsa. Peredaran dan penyalahgunaannya telah menjadi permasalahan seluruh negara di dunia," kata M Iriawan.

    Sehingga, kata dia, peredaran narkoba, termasuk ke dalam kategori kejahatan antar negara (transnational crime). Peredaran narkotika juga dilaksanakan secara terorganisir (organized crime) dengan tidak pandang bulu terhadap korbannya (indiskriminatif), terutama remaja usia produktif termasuk di dalamnya anak usia sekolah.

    Iriawan mengungkapkan, Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2018, menjadi momentum untuk menunjukkan keprihatinan, kepedulian, tanggung jawab dan tekad untuk memberantas penyalahgunaan dan peredaran narkoba.

    Oleh karena itu, lanjut dia, setiap komponen masyarakat, dan seluruh stakeholder, memiliki kewajiban untuk melawan peredaran narkotika baik dari segi peredaran maupun pemberantasan.

    "HANI, tentunya kita peringati setiap tahun. Kita prihatin terhadap peredaran narkotika yang ada di negara kita, khususnya di Jabar," katanya.

    Menurut dia diperlukan sebuah tekad yang maksimal. Dan bila tidak dicegah atau diberantas, bukan tak mungkin peredaran narkotik akan semakin merajarela, mengancam masa depan bangsa.

    "Narkotik adalah masalah dunia, jaringannya amat sangat hebat. Kita tahu beberapa sindikat, bahkan mengendalikan narkotika dari dalam lembaga permasyarakatan. Jadi mereka tidak dibatasi ruang dan gerak," kata Iriawan.

    Ia mengatakan harus ada penanganan khusus agar narkotika tidak berkembang dan strategi khusus tersebut, yaitu penanganan utuh antara supply reduction dan demand reduction.

    Supply Reduction dengan memutus mata rantai pemasok narkoba dari mulai produsen sampai dengan jaringannnya. Sementara Demand reduction, yaitu memutus mata rantai para pengguna narkoba.

    "Kedua hal tersebut perlu didukung oleh seluruh multipihak baik Pemerintah, Penegak Hukum, Masyarakat dan yang paling utama Ketahanan Keluarga," ujarnya.

    "Untuk yang belum pernah, jangan coba-coba menggunakan natkotika, narkoba. Kalau punya masalah, jangan lari ke narkotika, bukannya menyelesaikan masalah, malah membuat masalah baru," lanjut Iriawan.

    Dari data BNN Periode Januari hingga Desember 2017, diungkap 46.537 kasus narkoba dan 27 kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang bersumber dari kejahatan Narkoba di Indonesia.

    Dalam kasus tersebut, diamankan 58.365 orang tersangka kasus Narkoba, 34 tersangka TPPU dan 79 tersangka tewas akibat melakukan perlawanan saat penindakan.

    Jawa Barat sendiri, lanjut Iriawan, menjadi provinsi dengan kerugian biaya sosial ekonomi tertinggi di Indonesia akibat penyalahgunaan narkoba sebesar Rp16,19 triliun. Hal itu karena jumlah konsentrasi penyalahgunaan terbanyak di Indonesia, kemudian kedua di Provinsi Jawa Timur sebesar Rp12,34 triliun.

    Menurut dia, Jawa Barat sendiri merupakan provinsi tertinggi pertama penyalahguna narkoba sebesar 645.482, kedua Jawa timur sebesar 492.157 dan ketiga Jawa Tengah sebesar 284.186.

    "Mari kita sama -sama, perang melawan narkotika. Mudah-mudahan semua yang dilakukan sesuai dengan yang kita harapkan," kata dia. (ito)


    TAG :


    Berita TERKAIT